Di ruang rawat inap Bima, atmosfer kini berubah drastis. Ghina dan Yudi duduk bersisian di kursi kayu samping ranjang. Kecanggungan emosional yang sempat merayapi ruangan beberapa saat lalu seketika menguap, berganti dengan ketegangan profesional yang pekat. Wajah ketiga orang di ruangan itu tampak tajam, fokus, dan tanpa celah. "Pak, sebelum mulai aku ingin bertanya," kata Ghina sambil mengangkat sebelah tangannya ragu-ragu. Bima mendongak, menatap ketua tim penyelidikan itu. "Nanya apa?" Tanya Bima singkat. Dengan rasa cemas yang masih bergolak di dalam dadanya, Ghina berusaha menatap Bima secara langsung. Di balik keprofesionalannya sebagai pengumpul data intelijen, sisi rapuhnya sebagai bawahan sekaligus wanita yang terbayang-bayang bentakan keras adik sang bos masih menyisakan trauma kecil. "Bu Andien... Dia tidak akan mecat aku, kan, Pak?" Tanya Ghina dengan intonasi suara yang sedikit gemetar. Bima sedikit terkejut mendengar pertanyaan tak terduga dari mulut Ghina.
Ler mais