LOGINMatahari siang memancar terik di atas pelataran sekolah dasar tempat Syahdan dan Mabelle menuntut ilmu.Di depan gerbang utama, Saifanny dan Adrian berdiri bersisihan. Angin berembus pelan, namun tidak cukup untuk mendinginkan atmosfer dingin dan sarat kecurigaan yang menyelimuti kedua orang dewasa tersebut.Mata Saifanny memancarkan ketajaman yang murni dan tak tergoyahkan. Rasa percayanya pada Mabelle sudah berada di titik terendah setelah apa yang ia dengar dari perangkat penyadap tadi malam.Hari ini, ia ingin membuktikan sendiri sejauh mana anak itu akan memainkan skenario terapinya."Kau akan membawanya ke klinik Dr. Eliza lagi? Fanny, anak itu tidak bisa dipercaya," ucap Adrian dengan alis berkerut tebal, menyuarakan keraguan terbesarnya atas manipulasi yang dilakukan oleh keluarga Manggala.Saifanny menatap lurus ke arah bangunan sekolah, lalu menjawab dengan intonasi dingin."Iya, aku tahu anak itu memang tidak bisa dipercaya. Tapi aku yakin hasil tes waktu itu tidak selu
Marcus terduduk di atas sofa dengan mata yang fokus menatap layar iPad miliknya. Di tengah kesunyian ruangan, jemarinya bergerak luwes memeriksa barisan dokumen internal perusahaan dengan saksama.Aura dominan dan dingin memancar dari gesturnya, mencerminkan sosok pemimpin yang tak membiarkan satu detail pun luput dari pengawasannya.Ting! Ting!Notifikasi ponselnya mendadak berbunyi. Beberapa pesan masuk secara beruntun, mengusik konsentrasinya.Marcus meletakkan iPad tersebut di atas meja kaca, lalu meraih ponselnya. Jemarinya mengusap layar.Klik!Ruang obrolan terbuka. Seketika setelah lembar percakapan itu terpampang, sudut bibir Marcus terangkat, menyunggingkan senyum miring yang penuh kepuasan manipulatif.Dari ruang obrolan itu, Marcus menerima lampiran laporan rekam medis Mabelle saat menjalani sesi terapi di klinik Dokter Eliza.Dalam resume klinis tersebut, terdiagnosa bahwasanya Mabelle hanya menderita stres akibat beban pelajaran sekolah dan dinamika penyesuaian diri
Di ruang rawat Bima, kini Ghina dan Yudi duduk di kursi samping ranjang. Atmosfer kini terasa sangat serius dengan wajah mereka yang tajam tanpa celah."Pak, sebelum mulai aku ingin bertanya." Kata Ghina sambil mengangkat tangannya."Nanya apa?" Tanya Bima singkat.Dengan keraguan di dadanya, Ghina berusaha menatap Bima."Bu Andien, dia tidak akan mecat aku kan pak?" Tanya Ghina sedikit gemetar.Bima sedikit terkejut dengan pertanyaan Ghina, kenapa ia berpikir Andien akan memecatnya hanya karena kecelakaan tadi.Tatapan Bima melembut, ia menatap Ghina perlahan."Kejadian tadi hanya salah paham, Andien juga tahu itu. Jangan khawatir, tidak ada yang akan mecat kamu, Ghina" Kata Bima ramah."Lagipula Andien tidak akan menemuiku lagi, karena sore ini aku akan pulang" Lanjut Bima.Yudi yang mendengar itu, segera mengangkat tangannya."Maaf pak. Bapak mau pulang ke desa? Jika benar begitu saya akan mengabari anggota lain untuk segera bersiap" Tanya Yudi serius.Bima menggelengkan kepalanya,
Ghina terduduk lesu di salah satu kursi kafetaria rumah sakit, tepat berseberangan dengan Yudi. Dengan kepasrahan yang menyelimuti seluruh tubuhnya, gadis itu menyandarkan kepala pada dinding keramik yang dingin, berharap rasa dingin itu sanggup meredakan gejolak panas di dadanya.Yudi mengerutkan alisnya heran. Kelesuan yang begitu pekat pada raut wajah Ghina tak luput dari pengamatannya."Kenapa kamu menyusul ke mari?" Tanya Yudi penasaran.Ghina tetap diam membisu. Rasa malu, takut, dan canggung yang bertumpuk membuat bibirnya terkunci rapat, tak ada niat sedikit pun untuk menjawab."Hmm... Biar kutebak. Bu Andien datang?" Tebak Yudi intuitif.Sebuah anggukan lemah dari Ghina seketika mengonfirmasi dugaan pria di hadapannya itu. Yudi menaikkan sebelah alisnya—seolah bergumam dalam hati bahwa wajar saja Ghina melarikan diri hingga ke tempat ini."Memang kenapa kalau ada Bu Andien? Kamu dimarahi dia?" Tanya Yudi lagi, yang kembali dibalas dengan anggukan pasrah dari Ghina.Yud
Melihat tatapan Andien yang mengarah pada mereka berdua, Ghina mendorong pelan dada Bima lalu segera bangkit berdiri.Dengan kecanggungan dan perasaan malu di wajahnya, Ghina hanya berdiri mematung dengan tatapan Andien yang kini mengarah padanya saja."Kau disini untuk bekerja kan? Apa ini bagian dari pekerjaanmu?!" Bentak Andien tiba-tiba yang membuat Ghina maupun Bima terperanjat kaget.Bentakan Andien terlahir dari rasa cemburu yang tertahan selama beberapa hari ini, karena ia sebagai wanita paham kalau Ghina memiliki perasaan pada Bima.Walau status Bima adalah mantan kekasihnya, tapi ia mengakui dalam hati terdalamnya, bahwa dirinya masih mencintai pria itu.Andien perlahan berjalan mendekati ranjang Bima yang membuat Ghina menundukan kepalanya karena rasa takut akan adik dari bosnya itu.Tanpa pikir panjang, Ghina menyambat laptop dan ponsel miliknya yang tergeletak di atas kasur, lalu bergegas melangkah meninggalkan ruangan itu."Maaf Bu. Saya harus menyusul Yudi ke kafetaria"
Pagi yang tenang menyelimuti ruang rawat inap Bima. Sinar matahari tipis menembus jendela kaca, menerangi Bima yang terduduk di atas ranjang rumah sakit.Dengan ponsel di genggamannya, jemari pria itu menari lincah di atas layar, mengetik pesan singkat untuk kedua orang tuanya sekadar mengabarkan bahwa keadaannya baik-baik saja.Di luar kamar, Yudi duduk sigap di kursi tunggu, mengawasi koridor rumah sakit sebagai garda terdepan perlindungan.Sementara itu, di dalam ruangan, Ghina duduk di samping ranjang Bima dengan sebuah laptop memangku di paha, sibuk tenggelam dalam pekerjaannya.Beberapa hari telah berlalu sejak insiden penyerangan oleh Ririn yang mencoba menculik Bima kembali.Trauma dari peristiwa itu masih menyisakan goresan luka mendalam di benak Bima. Ia sadar, dalam kondisinya saat ini, ia tidak mungkin pulang ke rumah orang tuanya begitu saja.Rasa tanggung jawab dan kasih sayangnya membuat Bima enggan memperlihatkan fisiknya yang rapuh serta rasa takut yang belum sepenu
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada







