LOGINMelihat kehadiran Ririn dan Doni yang muncul mendadak dari kegelapan malam, Bima secara refleks menaikkan tingkat kewaspadaannya hingga batas maksimal.Bima benar-benar tak menyangka Ririn dan Doni akan muncul dari balik gudang tua yang tampak tak terpakai di seberang sana.Batinnya bergemuruh hebat; pantas saja pergerakan Ririn tak pernah terekam oleh kamera pengawas perimeter luar, karena bangunan usang itu ternyata merupakan titik buta yang sempurna.Otak Bima berputar cepat di tengah guncangan psikologis yang melingkupinya. Ia yakin, Ririn pasti telah membangun lorong bawah tanah yang menghubungkan rumah Marcus dengan gudang tersebut.Keberadaan jalur rahasia itulah yang membuat wanita itu mampu keluar-masuk kediaman Marcus tanpa sedikit pun terendus aparat.Doni menyapu kegelapan dengan menyorotkan pendar senter berkekuatan tinggi di tangannya, mengunci figur Bima dan Ghina yang berdiri kaku dalam posisi waspada.Melihat Bima berdiri tepat di hadapannya, Ririn seketika menyun
Malam makin merayap pekat di kawasan hunian elit J-City. Rumah megah berarsitektur modern milik Marcus Manggala berdiri kokoh dengan pendar lampu temaram yang memancarkan kesan dingin dan eksklusif. Di balik gerbang besi menjulang, beberapa pengawal berseragam gelap berpatroli dengan gestur waspada, menjaga perimeter agar tak tersentuh ancaman luar.Sekitar lima puluh meter di luar perimeter belakang rumah Marcus, sebuah mobil minibus hitam terparkir tenang di balik bayangan pepohonan rindang. Di dalam kabin yang temaram, pendar cahaya dari layar laptop menyinari wajah Ghina dan Bima. Cahaya biru itu memantulkan kecemasan mendalam yang tertahan di balik manik mata mereka."Sistem keamanan Marcus menggunakan enkripsi ganda, tapi port luarnya punya celah," bisik Ghina dengan jemari yang menari cepat di atas papan ketik. Suaranya diusahakan konstan, namun irama nafasnya pendek-pendek menandakan tekanan emosional yang amat tinggi.Di sampingnya, Bima mengepalkan kedua tangan di atas p
Sisa-sisa ketegangan masih merayap tebal di udara, membelenggu setiap sudut ruang baca kediaman Manggala.Saifanny dan Mawar saling mengunci tatapan dalam keheningan yang mencekam selama beberapa detik.Tatapan teler yang tadinya menghiasi manik mata Mawar kini menguap sepenuhnya, berganti menjadi sorot mata jernih namun sarat akan kelelahan jiwa.Mawar menghembuskan napas pelan, memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak dan anggun. Sebuah senyuman tipis yang tulus—tanpa kepalsuan—terlukis di bibirnya yang pucat."Kamu orang kedua yang menyadari kalau aku hanya berakting, Saifanny," mulai Mawar dengan nada suara yang begitu lembut namun rapuh.Saifanny mengedipkan matanya perlahan. Detak jantungnya yang sempat berpacu kencang perlahan menata ritme.Ia membatin, pasti ada alasan teramat kelam yang memaksa seorang wanita anggun seperti Mawar bersandiwara menjadi pemabuk di rumah mertuanya sendiri."Kamu tahu siapa orang pertama yang tahu kalau aku hanya berpura-pura?" Lanjut M
Saifanny melangkah menyisuri interior kamar tamu kediaman Manggala, mengedarkan pandangan dengan binar mengagumi yang ia tahan sedemikian rupa. Sebagai wanita yang tumbuh dan lama berinteraksi di lingkaran elit, ia paham betul betapa keluarga Manggala mematok standar dekorasi yang tinggi—serba elegan, simetris, namun menyimpan aura dingin yang intimidatif. Di tengah kesibukan Saifanny mengamati tiap sudut ruangan, Syahdan mendadak menarik ujung lengan bajunya. Anak laki-laki itu menatap ibunya dengan sepasang mata bulat yang dipenuhi keraguan. "Ma, kita nginep di sini? Gak di hotel?" Tanya Syahdan pelan. Pertanyaan ganjil itu sebenarnya sudah mengendap di kepalanya sejak mereka meninggalkan area waterpark. Saifanny berjongkok sedikit, mengulas senyum menenangkan seraya mengusap pundak putranya. "Iya, Sayang. Sementara kita nginep di sini," jawab Saifanny singkat, mencoba menyamarkan gemuruh cemas di dalam dadanya. "Kalian bisa menginap selama mungkin di sini," potong sebuah s
Matahari siang membakar T-City tanpa ampun, memancarkan silau yang memantul tajam di atas permukaan air kolam yang jernih.Di area waterpark yang riuh oleh gelak tawa pengunjung, Syahdan dan Mabelle tampak mengapung gembira, saling melempar bola air plastik di bawah pengawasan para penjaga pantai.Sementara itu, di tepi kolam, Saifanny dan Marcus duduk berdampingan di atas kursi malas yang ternaungi payung pantai raksasa.Saifanny menarik topi pantainya agak menunduk ke bawah, menutupi keningnya dari sengatan radiasi matahari. Ia sudah menduga bahwa cuaca terik T-City akan terasa menusuk bagi kulit dan penglihatannya.Di sebelahnya, Marcus duduk santai dengan senyum cerah yang terus menyungging. Pria itu tampak menikmati pemandangan di hadapannya—sesuatu yang dalam halusinasinya terasa seperti gambaran keluarga bahagia yang utuh."Tempat ini terlihat berbeda dari terakhir kali kita kemari. Arenanya lebih banyak dan luas," ujar Saifanny membuka percakapan basa-basi, berusaha mengali
Sinar matahari pagi membias di atas deretan kendaraan yang terparkir rapi di pelataran kantor Utama Group.Usai memarkirkan mobilnya, Yudi melangkah mantap menuju pintu utama gedung pencakar langit tersebut.Langkahnya sempat tertahan sejenak saat melewati pos penjagaan depan. Dua orang rekan sesama tim keamanan melambaikan tangan dengan gestur maskulin khas mereka—sebuah teguran tanpa kata yang dibalas Yudi dengan anggukan kepala singkat.Kedatangan Yudi ke kantor Utama Group pagi ini bukanlah untuk menyampaikan rincian perkembangan perburuan Ririn kepada Rivan, sang kepala tim keamanan.Panggilan ini bersifat pribadi dan sangat mendadak, datang langsung dari Andien—adik kandung Adrian yang sekaligus merupakan salah satu atasan di struktur perusahaan.Di balik langkah kaku yang diayunkannya, batin Yudi tak terlalu banyak bertanya-tanya. Pria itu sudah memprediksi alur yang akan terjadi.Ia sangat paham bahwa Andien memanggilnya secara langsung hanya untuk satu alasan: mengorek in
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah







