Freya tidak mengatakan apa-apa lagi. Kata-kata yang ingin ia lemparkan pada Logan menggumpal berat di lidahnya, simpul sakit yang tak mau terurai. Sebaliknya, ia menjauh dari tepi balkon dan bergerak menuju kursi kecil yang terselip di dekat sudut teras. Ia duduk perlahan, hampir hati-hati, seolah menurunkan dirinya ke dalam beban pikirannya sendiri.Pandangannya tertuju pada Logan, mengamatinya dalam diam. Bahunya tegang, rahangnya terkunci dalam frustrasi yang hening, namun ada sesuatu dalam posturnya—sesuatu yang menjerit kelelahan, bukan kekuasaan. Untuk sesaat yang singkat, ia merasa kasihan padanya. Tapi rasa kasihan itu berumur pendek, tergantikan oleh kepahitan yang telah menggerogoti dadanya sejak kepulangannya."Aku berharap," katanya tiba-tiba, suaranya lembut namun cukup tajam untuk membelah malam, "aku mati bersama ibuku saat aku dilahirkan."Kata-kata itu menghantam seperti pukulan, membuat Logan menoleh cepat ke arahnya. Ekspresi matanya berubah seketika—marah, panik, t
Terakhir Diperbarui : 2026-03-14 Baca selengkapnya