Tuntutan dewan tempo hari masih terngiang di benak Freya, berdentum layaknya vonis mati. *Kapan sang Alpha akan memberi kami penerus?* Pertanyaan itu dilontarkan tanpa belas kasih, seolah ia tak lebih dari sekadar bejana. Sebuah rahim yang hanya menunggu untuk diisi. Kehinaan membakar jantungnya, namun Freya memilih bungkam. Kini, dalam kesendirian di kamarnya, ia akhirnya menyadari satu kebenaran pahit: entah Alpha Logan siap atau tidak, ia telah menetapkan pilihan. Ia akan menyerahkan dirinya—jiwa dan raganya. Bukankah memang itu alasan ayahnya membuangnya ke sini? Untuk membayar utang dengan nyawa, tubuh, dan masa depannya? Jika memang ini takdirnya, maka ia akan mendekapnya. Namun, ia akan melakukannya dengan caranya sendiri. Freya melangkah menuju lemari besar bermotif ukiran. Di baliknya tersimpan sutra, beludru, dan renda yang jauh lebih indah dari apa pun yang pernah ia sentuh di Silverfang. Jemarinya membelai kain-kain itu; bahan yang membi
آخر تحديث : 2026-02-20 اقرأ المزيد