Bab 17: Senjata KreativitasPagi itu, kantor 'A-Legacy' Groups, yang dulunya hanyalah sebuah gudang katering yang terbengkalai, kini berdengung dengan aktivitas dan sentuhan modern. Kaca-kaca besar melapisi satu sisi dinding, memperlihatkan pemandangan kota Bandar Jaya yang berkembang pesat. Aroma kopi mahal tercium samar dari mesin di pantry, berbaur dengan kesibukan staf yang berlalu lalang. Alessia, mengenakan blazer hitam yang pas membalut tubuh rampingnya, duduk di belakang meja kerja minimalis dari kayu eboni. Wajahnya menunjukkan aura dingin seorang CEO, mata tajamnya menyorot ke layar komputer, menganalisis laporan. Di sampingnya, Rico, sekretaris barunya, berdiri tegap dengan tablet di tangan, siap sedia.Pak Baskoro, yang kini lebih banyak duduk di kantor sebagai penasihat senior, membaca koran bisnis di sofa empuk di sudut ruangan. "Pagi, Alessia. Laporan semalam bagus. Omzet 'A-Legacy' melonjak 40% dari proyek katering hotel bintang lima itu."Alessia hanya mengangguk tipi
Read more