"Ma, Kak, aku pergi dulu ya! Penting!" teriakku sambil menyambar kunci motor dan tas kecilku, mengabaikan seruan Kak Leni yang menagih bantuan di dapur.Pikiranku berkecamuk sepanjang jalan. Rasa bersalah semalam bercampur aduk dengan kekhawatiran yang luar biasa. Bodoh kamu, Git. Andreas itu emosian karena dia peduli, dan sekarang dia malah sakit, rutukku dalam hati.Begitu sampai di depan rumah asri itu, jantungku berdegup dua kali lebih kencang. Pagar rumahnya terbuka sedikit. Aku memarkirkan motorku dengan tangan gemetar. Belum sempat aku mengetuk pintu, seorang pria paruh baya dengan kaos oblong putih dan celana pendek kain muncul. Wajahnya tegas, dengan garis muka yang sangat mirip dengan Andreas.Ini dia. Ayahnya Andreas yang seorang polisi."Cari siapa, Neng?" tanyanya dengan suara bariton yang berat."E-eh... pagi, Om. Saya Gita, temannya Andreas. Tadi Fahri bilang Andreas lagi sakit, jadi saya mampir sebentar," jawabku sambil menunduk, nyaris tidak berani menatap matan
Last Updated : 2026-03-22 Read more