Sentuhan Andreas terasa semakin jauh melampaui batas, dan tiba-tiba saja kesadaran itu membisik relung hatiku. Ini salah. Ini tidak boleh terjadi. Seketika, bayangan wajah Ale yang tulus terlintas begitu saja. Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku mendorong tubuh Andreas sekuat mungkin hingga ia terjatuh ke sisi tempat tidur. "Aku salah sudah datang ke sini!" ucapku lirih dengan suara bergetar. Sambil terisak, aku merapikan rambut dan pakaianku yang sempat tersingkap, lalu bergegas menuju pintu. Namun, saat jemariku baru saja memutar kunci, sebuah tangan kokoh menahanku dengan cepat. "Tunggu, Gita!" "Lepas! Kamu keterlaluan, Ndre!" jeritku di tengah tangis yang pecah tak terkendali. Rahang Andreas mengeras, dadanya naik-turun menahan emosi yang siap meledak kapan saja. Ia mengembuskan napas panjang, menatapku dengan sorot kekecewaan yang begitu dalam. "Aku antar pulang," ujarnya rendah. "Nggak perlu!" "Ini sudah malam, Gita. Bahaya." Aku menepis tangannya dengan
Last Updated : 2026-05-04 Read more