Wajah Ale yang semula cerah kini berubah menjadi kaku, guratan kekecewaan mulai nampak jelas di sela-sela sorot matanya. Ia tidak lagi menatap cincin di jariku, melainkan menatap langsung ke dalam kedua mataku. "Jawab, Git. Kenapa Salsa bisa tanya begitu? Apa benar pagi tadi kamu nggak ke kampus, tapi justru pergi sama Andreas?" Suara Ale rendah namun membuatku merinding. Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa sangat kering. "Kak, dengerin dulu... Aku... aku memang ke rumah sakit, tapi itu murni untuk skripsi." "Untuk skripsi atau untuk dia?" Ale memotong cepat, langkahnya mendekat hingga aku bisa merasakan kemarahan yang memancar dari tubuh atletisnya. "Kamu bilang ada urusan kampus yang mendadak. Kamu bohong demi bisa ketemu dia di belakangku? Padahal aku sudah bilang, aku nggak tenang kalau kamu dekat-dekat sama dia!" "Ini bukan soal dia, Kak! Ini soal observasi manajemen konflik di Bab tigaku. Andreas itu koordinator koas di sana, hanya dia yang bisa kasih aku akses
Last Updated : 2026-05-01 Read more