Home / Young Adult / Cinta Gita / BAB 15 KEPERGIAN ANDREAS

Share

BAB 15 KEPERGIAN ANDREAS

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-03-25 08:08:14

Sore itu seharusnya menjadi kemenangan kecil bagi hubungan kami. Pelukan Andreas di depan pagar rumahku terasa seperti janji bahwa tidak akan ada lagi masa lalu yang bisa menyelinap masuk. Dan cita-cita Andreas yang ingin menjadikan aku istrinya kelak. Namun, siapa sangka bahwa pelukan hangat itu adalah kepingan terakhir yang bisa kusimpan dalam ingatan.

​Keesokan harinya, Andreas tidak menjemputku. Pesan singkatku hanya berujung centang satu. Panggilanku masuk ke kotak suara. Awalnya aku pikir
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cinta Gita   BAB 17 SOSOK ANDREAS

    "Ayo dong, Git. Masa nggak mau ikut. Lumayan gue ada temennya di bangku penonton." Desak Azizah sore itu saat kami baru saja selesai mengikuti kuliah Jurnalistik Umum."Itu ada Nila. Lagian jangan lupa, lusa kita ketemuan sama Widi dan Ipul katanya mau ke dufan." Tolakku yang tidak mau menemani Azizah menyaksikan turnamen sepak bola yang diikuti Bian dan Ale."Gue nggak bisa besok, udah ada janji sama nyokap ke rumah tante." Jawab Nila sambil menikmati mie ayam favoritnya."Tu kan, Nila nggak bisa." Azizah mulai mendorong-dorong pelan bahuku agar aku luluh dan mau menemaninya. "Ayo, dong, Git. Kali ini aja." Desaknya sekali lagi.Aku menghembuskan nafas kasar, " Iya udah oke!terakhir loh yaa!" jawabku tak tega."Yeay!lo emang best friend banget, Git. Besok gue suruh kak Ale jemput lo ya. Nggak apa-apa kan?""Eh, jangan!" sergahku cepat, nyaris tersedak air mineral yang baru saja kuteguk.​Azizah menghentikan aksi joget kemenangannya dan menatapku bingung. "Kenapa? Kak Ale sendiri yang

  • Cinta Gita   BAB 16 MEMBUKA HATI

    ​"Sudah siap?" Yoga tersenyum menatapku. Riasan naturalku pagi ini tampaknya sukses membuat laki-laki itu tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun.​Aku mengangguk pelan. Hari ini, untuk pertama kalinya sejak kami menginjakkan kaki di dunia perkuliahan tiga tahun lalu, aku menerima tawaran Yoga untuk mengantarku ke kampus.​"Cantik banget, Git," ujar Yoga tulus. ​Aku hanya tersenyum tipis sebagai jawaban. Sudah hampir tiga tahun sejak kepergian Andreas yang tanpa kabar, dan jujur saja, kekosongan itu masih sering terasa. Sulit bagiku untuk benar-benar jatuh cinta lagi. Entahlah, mungkin aku hanya trauma, takut kalau laki-laki yang kuberikan hati akan menghilang tiba-tiba tanpa pamit, persis seperti yang dilakukan Andreas.​Mobil sedan hitam Yoga mulai membelah jalanan ibu kota yang padat. Di dalam kabin, kami hanya terdiam. Hening di mobil Yoga terasa sangat berbeda dengan keheningan yang dulu sering kubagi bersama Andreas. Bersama Andreas, diam adalah kenyamanan. Namun bersama Yog

  • Cinta Gita   BAB 15 KEPERGIAN ANDREAS

    Sore itu seharusnya menjadi kemenangan kecil bagi hubungan kami. Pelukan Andreas di depan pagar rumahku terasa seperti janji bahwa tidak akan ada lagi masa lalu yang bisa menyelinap masuk. Dan cita-cita Andreas yang ingin menjadikan aku istrinya kelak. Namun, siapa sangka bahwa pelukan hangat itu adalah kepingan terakhir yang bisa kusimpan dalam ingatan.​Keesokan harinya, Andreas tidak menjemputku. Pesan singkatku hanya berujung centang satu. Panggilanku masuk ke kotak suara. Awalnya aku pikir dia hanya kelelahan karena demam seperti waktu itu, atau mungkin ponselnya rusak. Namun, saat dua hari berganti menjadi seminggu, kecemasan mulai menggerogoti kewarasanku. ​Aku nekat mendatangi rumahnya. Namun, jantungku seakan merosot ke lantai saat melihat pagar asri itu kini dirantai rapat. Tidak ada lagi motor Yamaha R1 hitam di halaman. Tidak ada Fahri yang jahil. Bahkan gorden jendela rumahnya sudah dilepas, menyisakan kekosongan yang dingin. Tetangga sekitar hanya bilang kalau keluarga

  • Cinta Gita   BAB 14 HARI TERAKHIR

    "Siapa, yang?" tanya Andreas. Matanya yang tajam langsung menangkap perubahan ekspresi di wajahku.​Aku mencoba menarik ponselku menjauh, tapi gerakanku yang gugup justru membuat Andreas semakin curiga. Dalam satu gerakan cepat yang tidak sempat kuhindari, ia meraih ponsel dari tanganku.​Wajah Andreas yang tadi tenang, seketika berubah mengeras. Rahangnya mengatup rapat sampai otot-otot di lehernya terlihat menegang. Matanya terpaku pada layar, membaca pesan singkat dari Yoga yang mengaku sedang berada di depan rumahku.​"Dia benar-benar nggak punya malu ya," ucap Andreas dengan suara rendah yang sangat dingin, suara yang selalu muncul tepat sebelum badai emosinya meledak.​"Yang, biarin aja. Kita jangan pulang sekarang kalau gitu, kita ke tempat lain aja ya?" bujukku panik. Aku menarik lengan jaketnya, mencoba mengalihkan perhatiannya.​Andreas tidak bergeming. Ia justru menghidupkan mesin motornya dengan sekali sentakan. Suara knalpot motor besarnya menderu lebih keras dari biasany

  • Cinta Gita   BAB 13 SI PANTANG MENYERAH

    Hari ini genap sepuluh bulan hubungan ku dengan Andreas berjalan dengan baik-baik saja. Semakin lama, rasa cemburuku terkikis karena pembuktian dari sikap Andreas yang benar-benar menunjukkan cintanya hanya padaku. Dia tidak pernah lagi membalas pesan dari cewek manapun kecuali soal pelajaran sekolah.Ditambah sebentar lagi, hari kelulusan akan tiba. Andreas mengatakan belum terpikir untuk ambil kuliah jurusan apa dan dimana. Sama sepertiku, aku sudah menyerah untuk mendaftar PTN, aku cukup menyadari kapasitas otakku yang biasa-biasa saja. Walaupun selalu masuk peringkat 10 besar tapi aku tetap tidak percaya diri untuk bisa lolos PTN di Jakarta karena aku tidak mau tinggal sendiri di luar kota kalau harus memilih PTN di daerah. Jadi aku lebih baik memilih universitas swasta agar tetap di Jakarta bersama keluargaku dan bersama Andreas tentu saja.Saat ini kami semua berkumpul di tempat makan belakang sekolah. Aku ikut nongkrong karena menunggu Andreas menjemput."Aduh, gue kayaknya ngg

  • Cinta Gita   BAB 12 HATIKU HANYA UNTUKMU

    Layar ponsel itu terus menyala, menampilkan rentetan pesan yang seolah menari-nari mengejekku. Aku sempat menangkap sekilas nama-nama itu sebelum Andreas membalikkan ponselnya dengan gerakan malas.​"Kenapa berhenti? Gue masih lapar," ucap Andreas datar, matanya masih terpejam seolah tidak peduli dengan notifikasi yang baru saja lewat.​Aku menelan ludah, mencoba menenangkan gemuruh di dadaku. Sabar, Git. Kamu ke sini buat ngerawat dia, bukan buat interogasi, bisikku dalam hati. Aku kembali menyodorkan sendok terakhir bubur itu ke mulutnya.​"Siapa, Ndre?" tanyaku akhirnya, tak tahan juga untuk tidak bertanya setelah bunyi notifikasi itu kembali terdengar.​"Enggak tahu. Males baca," jawab Andreas malas, meski hatiku rasanya ingin sekali merebut ponsel miliknya dan melihat apa isi pesan dari perempuan-perempuan itu.​Andreas membuka matanya, menatapku dengan sudut bibir yang sedikit terangkat. "Penasaran ya?nggak ada yang penting kok."​"Kalau penting juga nggak apa-apa, silakan dibal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status