Masuk"Halo, Andreas, kamu di mana?" Suara Salsa terdengar samar dari speaker ponsel yang digenggam Andreas. Laki-laki itu mengusap kasar sisa air mata di wajahnya sebelum mencoba menenangkan suaranya untuk menjawab. "Aku sudah bilang, kan, kalau aku pergi dengan Gita?" "Iya, aku tahu. Tapi apa yang kamu lakukan di kampus Gita? Berkelahi?" Andreas tertegun sejenak, matanya yang memerah menatapku yang tengah ikut menyimak pembicaraan itu. Wajahku menegang. Dalam hati aku bertanya-tanya, bagaimana Salsa bisa tahu secepat itu? Bian tidak mengenal Salsa, jadi tidak mungkin dia yang melaporkannya secara langsung. "Bagaimana kamu tahu—" "Kak Ale yang memberitahuku. Dia memarahiku habis-habisan karena mengizinkanmu pergi dengan kekasihnya. Dan sampaikan pada Gita agar segera mengaktifkan ponselnya. Ale hanya punya waktu sebentar sebelum harus menyerahkan ponselnya kembali ke pengawas karantina." Potong Salsa cepat. Aku tersentak dan bergegas meraih tas yang tergeletak di atas
Sosok itu kembali mendekati Andreas. Ia mencengkeram kuat kerah kaos oblong putih milik Andreas dan sudah bersiap melayangkan pukulan kedua. Mataku yang sembab karena kelelahan menangis, belum menyadari siapa sebenarnya laki-laki yang saat ini berdiri membelakangiku dan memukul Andreas untuk kedua kalinya. Darah mulai mengalir dari sudut bibir Andreas yang pecah. Namun, Andreas hanya diam mematung, seolah sengaja membiarkan sosok itu terus menghujamnya hingga pukulan ketiga. Suasana parkiran mendadak riuh, semua mahasiswa yang berada di sana kini telah mengalihkan pandangan ke arah kami, menyaksikan keributan yang semakin tak terkendali. "Lo benar-benar cowok brengsek! setelah ninggalin Gita begitu aja, sekarang lo enak-enakan meluk dia! lo tahu nggak Gita sudah punya pacar sekarang. Dan pacarnya itu teman gue! Kali ini nggak akan gue biarin lo ngerebut Gita lagi dari teman gue, cukup Yoga, tapi nggak untuk Ale!" teriakan itu membuat aku menyadari siapa sosok itu. "Bian!" je
Dua bulan telah berlalu sejak deru mesin mobil Ale membelah kesunyian malam di depan rumahku. Jakarta masih sama, sibuk, panas, dan menyesakkan. Namun duniaku terasa seperti kaset yang diputar dalam gerakan lambat. Ale benar-benar pergi menjalani karantina atletnya sebagai persiapan menuju kompetisi kejuaraan di Spanyol, meninggalkan aku dalam ruang hampa yang ia sebut sebagai "kesempatan untuk merenung." Aku duduk di sudut kantin kampus, menatap layar laptop yang menampilkan draf terakhir skripsiku yang sudah hampir selesai. Lembaran kertas yang dua bulan lalu ditandatangani oleh Andreas kini sudah terpampang di lampiran skripsiku. Lembaran itu terasa berbeda, seperti memberiku kekuatan untuk terus maju dan mengejar karir sesuai yang aku tuangkan dalam skripsiku. Andreas memahami itu. Memahami kalau aku sangat ingin menjadi seorang Jurnalis yang sukses. Aku tidak menyangkal kalau Ale juga memiliki pemahaman yang sama, hanya saja, ia berubah. Sejak kehadiran Andreas dalam hidupku
Perlahan aku membuka mata. Hal pertama yang aku lihat adalah sinar lampu yang berada diatas kepalaku begitu terang dan menyilaukan. Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Menahan rasa sakit dikepala dan mulai melihat kesekelilingku. "Aku dimana?" lirihku mencoba bangun dari tempat tidur. Gerakan kecilku saat itu juga langsung membeku, ketika melihat seseorang yang baru datang dan menyibak tirai pembatas dengan nafas memburu. "Gita, kamu nggak apa-apa?" seru Ale berjalan mendekatiku. Reaksi pertamaku sungguh tidak terduga. Aku merasa harus menjauhi Ale. Aku merapatkan tubuhku ke bantal tempat tidur menarik tubuhku menjauh dari Ale. Laki-laki itu menatap gerakan tubuhku yang menjauh dengan tajam. Rahangnya mengeras. "Kau tidak suka aku ada di sini? atau mau aku panggilkan Andreas lagi untuk menemanimu?" "A—andreas, aku tidak—" "Cukup, Git. Kita bahas nanti. Sekarang kamu harus menunggu sampai demammu turun baru bisa pulang." Potong Ale dengan nada dingin. Ale duduk di kursi b
Tirai hijau yang tersibak itu sangat menyesakkan dada Andreas. Ia terpaku. Detak jantungnya yang semula berpacu karena amarahnya pada Yoga dan Ale, kini berganti dengan rasa khawatir yang menghujam telak ke dadanya.Di atas brankar yang kaku, Gita terbaring lemah. Wajah yang biasanya terpancar kecantikan yang sangat Andreas sukai itu kini sepucat kertas. Napasnya pendek-pendek dan berat dalam tidurnya yang lelap, karena terjatuh tak sadarkan diri."Gita..." gumam Andreas pelan, nyaris tak terdengar.Ia segera mendekat, tangannya yang terbungkus sarung tangan karet gemetar saat menyentuh dahi Gita. Panas. Sangat panas. Suhu tubuh gadis itu seolah membakar telapak tangan Andreas. Tanpa membuang waktu, Andreas memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Gita dengan cepat."Suster! Tolong siapkan kompres dingin dan paracetamol intravena, sekarang!" teriak Andreas, suaranya memenuhi ruang IGD, membuat beberapa perawat menoleh kaget karena nada bicaranya yang biasanya tenang kini terden
Author's POV Suara ketukan di depan pintu kamar kosnya pagi ini memaksa Andreas terbangun dari tidurnya. Dengan langkah berat yang masih diselimuti rasa kantuk, ia berjalan pelan menuju pintu. Pikirannya masih tertinggal pada kejadian semalam tentang Gita, tentang perdebatan mereka, dan tentang bagaimana gadis itu lari meninggalkan kos nya dalam keadaan menangis. Andreas sempat mengejar dan memanggil Gita agar kembali karena malam sudah larut. Tapi gadis itu sudah masuk kedalam taksi dan Andreas bergegas memotret nomor plat taksi untuk memastikan keselamatannya. Tiba di depan pintu, Andreas memutar kunci dan pintu terbuka, sosok Salsa berdiri di sana dengan wajah yang ditekuk masam. "Lama banget sih, Ndre? Aku bawain sarapan buat kamu," cetus Salsa tanpa permisi langsung melesat masuk ke dalam ruangan. Andreas mengusap wajahnya kasar, mencoba mengumpulkan kesadarannya. "Salsa, Ngapain pagi-pagi ke sini? Kan aku sudah bilang hari ini aku ada jadwal pagi di rumah sakit."







