LOGINAku menarik napas panjang, mencoba meredam denyut di kepalaku yang kian menggila. Pagi ini, suhu tubuhku benar-benar tak bersahabat akibat kehujanan semalam. Sialnya, aku sendirian di rumah karena Mama sedang menginap di rumah Kak Ana untuk menjaga keponakanku yang jatuh sakit. Dengan sisa tenaga, aku memaksakan diri bangkit. Bayangan sikap dingin Ale yang pergi begitu saja dengan Sandra dan meninggalkanku, benar-benar membekas dalam benakku. Terus terang, hatiku sakit. Namun, aku harus mengikhlaskan apa pun keputusan Ale. Kebohongan selalu punya harga yang harus dibayar dan mungkin kehilangan Ale adalah konsekuensi pahit yang harus kutelan bulat-bulat. Semalaman aku menyadari kalau Ale memang pantas mendapatkan gadis yang jauh lebih baik, yang derajatnya setara dengan keluarganya, bukan seorang pembohong sepertiku. Sambil terbatuk-batuk, aku melangkah gontai ke dapur. Aku harus mengisi perut dan minum obat karena siang nanti aku harus ke rumah sakit untuk terakhir kalinya. Aku pe
Sentuhan Andreas terasa semakin jauh melampaui batas, dan tiba-tiba saja kesadaran itu membisik relung hatiku. Ini salah. Ini tidak boleh terjadi. Seketika, bayangan wajah Ale yang tulus terlintas begitu saja. Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku mendorong tubuh Andreas sekuat mungkin hingga ia terjatuh ke sisi tempat tidur. "Aku salah sudah datang ke sini!" ucapku lirih dengan suara bergetar. Sambil terisak, aku merapikan rambut dan pakaianku yang sempat tersingkap, lalu bergegas menuju pintu. Namun, saat jemariku baru saja memutar kunci, sebuah tangan kokoh menahanku dengan cepat. "Tunggu, Gita!" "Lepas! Kamu keterlaluan, Ndre!" jeritku di tengah tangis yang pecah tak terkendali. Rahang Andreas mengeras, dadanya naik-turun menahan emosi yang siap meledak kapan saja. Ia mengembuskan napas panjang, menatapku dengan sorot kekecewaan yang begitu dalam. "Aku antar pulang," ujarnya rendah. "Nggak perlu!" "Ini sudah malam, Gita. Bahaya." Aku menepis tangannya dengan
"Apa yang kamu katakan pada Ale?" aku menahan amarah saat mendengar suara tenang Andreas dari seberang sana. Setelah kepergian Ale dari rumahku, aku yakin, kalau Andreas telah mengatakan semuanya pada Ale. Tentang masa lalu ku bersamanya. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." Sahut Andreas masih dengan nada yang tenang. "Ndre, kamu gila! Kamu benar-benar mengatakan kalau kamu mantan pacarku?" Diam sejenak, Andreas seperti memikirkan jawaban atas pertanyaanku. "Faktanya memang aku mantan pacarmu kan, Git? Jadi, apa yang salah?" "Andreas! kamu sudah menghancurkan hubunganku dengan Ale." "Kalian putus?" pertunangan itu batal? baguslah." Air mata tumpah di pipiku. Aku tidak menyangka kalau Andreas bertindak dalam diam untuk menghancurkan hubunganku dengan Ale. "Apa mau kamu, Ndre? setelah empat tahun pergi menggantung hubungan kita, lalu kembali ke Jakarta bersama gadis lain, dan menghancurkan hubunganku dengan Ale! Kamu mau sakitin aku kayak apa lagi, Ndre!" aku sudah t
Author POV [Flashback hari kepergian Andreas dari rumah Keluarga Ale saat makan malam bersama.] "Andreas, tunggu!" teriak Salsa berlari menyusul langkah panjang laki-laki itu. Andreas tidak perduli, dengan wajah merah menahan amarah, ia membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil bertepatan dengan Salsa yang juga masuk di sisi kursi penumpang. "Aku mau sendiri, Sal!" geram Andreas melihat Salsa yang berhasil menyusulnya. "Aku kan sudah bilang, sampai kapanpun aku tidak akan membiarkanmu sendiri." Balas Salsa tersenyum tipis. "Jangan bercanda, aku lagi nggak mood." "Ada apa antara kamu dengan Gita?" tanya Salsa mengabaikan amarah Andreas. Karena gadis itu tidak suka dengan rahasia yang selalu Andreas pendam selama ini "Apa dia orangnya? gadis yang selalu kamu sebut sebagai pacar kamu di Jakarta saat kita masih di Surabaya?" Salsa terus mendesak. Andreas hanya diam, kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat kuat, tanda bahwa laki-laki itu sedang menahan amarah
Wajah Ale yang semula cerah kini berubah menjadi kaku, guratan kekecewaan mulai nampak jelas di sela-sela sorot matanya. Ia tidak lagi menatap cincin di jariku, melainkan menatap langsung ke dalam kedua mataku. "Jawab, Git. Kenapa Salsa bisa tanya begitu? Apa benar pagi tadi kamu nggak ke kampus, tapi justru pergi sama Andreas?" Suara Ale rendah namun membuatku merinding. Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa sangat kering. "Kak, dengerin dulu... Aku... aku memang ke rumah sakit, tapi itu murni untuk skripsi." "Untuk skripsi atau untuk dia?" Ale memotong cepat, langkahnya mendekat hingga aku bisa merasakan kemarahan yang memancar dari tubuh atletisnya. "Kamu bilang ada urusan kampus yang mendadak. Kamu bohong demi bisa ketemu dia di belakangku? Padahal aku sudah bilang, aku nggak tenang kalau kamu dekat-dekat sama dia!" "Ini bukan soal dia, Kak! Ini soal observasi manajemen konflik di Bab tigaku. Andreas itu koordinator koas di sana, hanya dia yang bisa kasih aku akses
Malam ini aku benar-benar tidak bisa menutup mata. Agenda dua janji esok hari membuat kepalaku sakit. Sebenarnya, bertemu Andreas adalah pilihan yang sangat penting, karena waktu observasi tidak bisa di jadwalkan ulang. Sedangkan membeli cincin pertunangan bisa dilakukan lain waktu karena acara pertunangan baru dilaksanakan minggu depan. Tapi desakan Ale saat meninggalkan rumahku tadi tidak bisa aku tolak. Aku tidak ingin merusak kebahagiaannya setelah mendapatkan restu dari Papa. Ditambah lagi, Ale tidak mengetahui rencana observasi dataku esok hari. "Ya tuhan, bagaimana ini!" jeritku tertahan membenamkan wajah di bantal. Terlintas dalam benakku untuk meminta sekali lagi saja bantuan Andreas agar bisa membantu ku mengatur ulang jadwal observasi. Sejenak aku berpikir untuk memperioritaskan permintaan Ale. Tapi, peringatan Papa dan Mama yang selalu mengingatkanku untuk menomorsatukan pendidikan, sekali lagi menggoyahkanku. "Arrgghhh!" Aku benar-benar buntu, hingga akhirnya kepu







