"Ayah, jangan," pinta Beby sambil terisak tangis. William terlihat bimbang, mematap istrinya dan putri angkatnya secara bergantian. Dia iba pada Beby yang terus menangis, tetapi permintaan istrinya terlalu sulit untuk ia tolak. "Baiklah, Elena. Aku akan pekerjakan pengasuh untuk cucu kita," putus William pada akhirnya, mengesampingkan rasa iba-nya karena istrinya memang benar. Beby terlalu sering lalai. Sebenarnya bukan karena kasus hari ini saja, tetapi sebelum-sebelumnya Sein sudah sering berulah. "Ayah," cicit Beby sedih. "Ini keputusan yang tepat untuk kita semua, Beby," tegas William, "berhenti menangis, kasihan putramu." Beby mengangukkan kepala lalu mengusap air mata dengan pelan. "Hanya begini saja?" ucapan Alaric tiba-tiba, membuat semua orang menoleh padanya, termasuk Aeza. "Apa maksudmu, Arhas?" William mengerutkan kening, memanggil Alaric dengan sebutan Arhaz–nama kecil atau nama Alaric yang lebih dikenal di keluarga ini. Begitulah William, kadang
Read more