"Oh." Alaric menganggukkan kepala pelan, menatap Aeza dengan lekat dan intens, "jadi aku galak, umm?" Aeza menatap ragu pada Alaric lalu segera menganggukkan kepala. "Kalau begitu aku meminta maaf padamu, Darling," ucap Alaric dengan nada lembut, duduk di depan Aeza yang memperlihatkan sikap waspada padanya. Gerak-gerik Aeza seperti sikap Aeza awal mula bertemu dengannya, takut dan selalu waspada. "Kenapa kau hanya diam, Hum?" Alaric meraih buku ditangan istrinya lalu meletakkannya di atas nakas, "kau masih marah padaku?" "Tidak," jawab Aeza pelan, menundukkan kepala karena enggan bertatap muka dengan Alaric, "aku tidak punya hak untuk marah," tambahnya dengan nada yang teramat pelan dan lemah. "Hah." Alaric menghela napas panjang, meraih tangan Aeza lalu menggenggamnya dengan lembut, "kau sepertinya salah memahami, Darling. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan kemarahan ataupun rasa tidak sukamu pada siapapun itu. Tetapi aku ingin kau terbuka padaku, cukup padaku." "Iya,"
Last Updated : 2026-04-19 Read more