Tawa Kiara pecah pelan, ringan—terlalu ringan untuk seseorang yang sedang dicekik di ambang kematian. Bibirnya melengkung tipis, matanya tetap tenang, seolah tekanan tangan Kevin di lehernya hanyalah sentuhan biasa.“Tadi kau begitu menikmati tubuhku…” suaranya serak namun santai, napasnya sedikit tersendat, “sekarang kau ingin membunuhku.”Jari-jari Kevin menegang. Otot lengannya mengeras, urat-urat menonjol jelas. Aura membunuhnya memenuhi ruangan sempit itu, berat seperti udara sebelum badai. Namun, Kiara—anehnya, tetap tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.“Katakan,” desis Kevin, suaranya rendah dan dingin, “kenapa kau mengikuti kami?”Kiara hanya memiringkan kepala sedikit, seolah menikmati situasi ini. Tatapannya menusuk, tajam, penuh perhitungan.“Aku ini penembak jitu yang hampir membunuh Julie Cavendish…” ucapnya perlahan, seolah mengingat momen itu dengan santai, “jika kau tidak menangkap pelurunya.”Ia berhenti sejenak, batuk kecil memecah kalimatnya.“Uhuk...!”Namun, s
Read more