Bayu tidak memedulikan ucapan Lyra dari balik layar ponselnya. Dengan gerakan kasar, dia menekan tombol merah, memutus panggilan itu secara sepihak, lalu menyambar jasnya yang tergeletak di ranjang. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena sisa gairah, melainkan karena ketakutan yang mencekam akan kehilangan Maudy. Dia berlari keluar dari kamar, menyusuri koridor hotel yang panjang dengan langkah lebar, matanya liar mencari sosok wanita dengan blazer formal yang tadi baru saja keluar dengan air mata di pelupuk mata."Maudy! Maudy, tunggu!" seru Bayu, suaranya bergema di lorong sunyi itu.Namun, koridor itu tampak kosong. Maudy seolah menguap ditelan bumi. Bayu tidak tahu bahwa hanya beberapa meter di belakangnya, Maudy sedang bersandar di balik pintu toilet perempuan. Tubuhnya merosot ke lantai, tangannya membekap mulut agar isak tangisnya tidak terdengar keluar. Dia bisa mendengar langkah kaki Bayu yang berlari menjauh, memanggil namanya dengan nada putus asa.“Kemana dia? Kenapa
Read More