Maudy segera memutar tubuhnya, mencoba melepaskan diri dari dekapan hangat Bayu yang mulai terasa berbahaya bagi konsentrasinya. Ia melangkah menuju meja kerja besar milik Bayu, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan kayu jati yang dingin itu, berusaha keras mengatur ritme napasnya yang masih sedikit berantakan."Sudahlah, jangan bahas soal pipi merah, soal cemburu atau hal konyol lainnya! Aku ke sini untuk bekerja, Bayu. Aku butuh kepastian, butuh penghasilan. Nantinya, posisi apa yang akan aku pegang di perusahaan ini? Aku cukup sadar diri bahwa situasiku sekarang tidak lagi sama seperti saat aku menjadi CEO dulu. Aku tidak berharap jabatan tinggi secara instan,” cakap Maudy. Nada suaranya berusaha dibuat setegas mungkin meski getaran di hatinya akibat sentuhan Bayu masih terasa. Maudy kemudian berpindah posisi sebelum melanjutkan kalimatnya. Dia berbalik, menatap Bayu yang masih berdiri di tempatnya semula. "Aku punya pengalaman dalam manajemen operasional, aku juga bisa menangani
Read more