Malam semakin larut, menyisakan keheningan yang dalam di kamar Maudy.Hanya suara rintik hujan tipis di luar jendela dan detak jam dinding yang menemani kesunyian. Di tepi ranjang, Bayu dan Maudy duduk bersisian. Kali ini, tidak ada gelora gairah yang membara seperti sebelumnya. Aura di antara mereka terasa jauh lebih tenang, lebih sakral, seolah udara pun ikut menghormati percakapan hati ke hati yang sedang berlangsung.Bayu meraih tangan Maudy, menggenggamnya dengan lembut dan posesif. Bayu seolah ingin mentransfer seluruh kekuatan yang dia miliki ke dalam tubuh wanita itu. Dia menatap lekat mata Maudy yang masih menyisakan rona kemerahan bekas tangis tadi siang."Maudy, dengarkan aku baik-baik. Jangan pernah lagi membiarkan kata-kata siapa pun, termasuk Lyra, membuatmu merasa rendah. Di mataku, kamu tidak pernah berubah. Kamu tetap Maudy yang sama, wanita yang sudah digariskan untukku jauh sebelum kita mengerti apa itu cinta,” ucap Bayu dengan suara yang terdengar rendah dan berwi
Read more