Ketegangan di lobi kantor yang terbuka itu terasa kian memekat. Bayu menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai gemuruh emosi yang mendadak bangkit di dalam dadanya. Sebagai seorang pemimpin tertinggi di perusahaan ini, ia tahu bahwa setiap pasang mata karyawannya kini tengah mengawasi pergerakannya. Ia tidak boleh terlihat runtuh atau kehilangan kendali hanya karena hantu dari masa lalunya datang mengetuk pintu.Sambil mengeratkan genggaman jemarinya sekilas pada lengan Maudy, seolah memberikan sinyal bahwa segalanya akan baik-baik saja, Bayu melangkah maju. Tatapan matanya lurus, tajam, dan sedingin es menghujam Tuan Pradipta yang kini telah berdiri beberapa langkah di hadapannya."Tuan Pradipta. Silakan ikut saya ke ruangan," ucap Bayu dengan suara mengalun berat, formal, dan tanpa sedikit pun riak kehangatan di dalamnya. Bayu berbalik, menuntun pria paruh baya itu menuju pintu jati ruang kerjanya yang kokoh. Sebelum masuk ke ruangan, Bayu sempat menoleh ke arah Maudy seolah
Read more