Share

Bab 277

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-05-24 13:47:42

Suasana di koridor depan ruang Unit Gawat Darurat itu mendadak hening seketika. Gesekan emosi dan ketegangan yang baru saja memercik antara Maudy dan Alena seolah menguap begitu saja ke udara, tergantikan oleh fokus mutlak yang tertuju pada sosok pria berjas putih di hadapan mereka. Semua yang ada di sana menahan napas, membiarkan waktu bergulir lambat dalam kecemasan yang bergelayut tebal.

​Bayu melangkah selangkah ke samping Maudy, bersedekap dada dengan tatapan yang tetap waspada. Sementara
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 377

    Keesokan harinya, sinar matahari menembus jendela ruang makan yang tenang. Aroma nasi goreng dan kopi mint kesukaan Bayu sudah menguar di udara. Namun, suasana hangat itu mendadak pecah oleh suara sendok yang berdenting keras di atas piring kaca.​Maudy yang baru saja menyuap sesendok kecil sarapannya tiba-tiba meletakkan sendoknya kembali. Wajah cantiknya seketika kehilangan warna, berubah menjadi pucat pasi. Sebelah tangannya refleks mencengkeram pinggiran meja, sementara tangan lainnya memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut hebat.​"Sayang? Kamu kenapa?" tanya Bayu, langsung meletakkan cangkir kopinya. Guratan cemas seketika tercetak jelas di wajah tampannya.​"Pusing, Mas... kepala aku mendadak berputar," bisik Maudy lirih. belum sempat Bayu menjawab, Maudy membekap mulutnya sendiri. Rasa mual yang teramat sangat menyodok dadanya. Tubuhnya gemetar dan lemas, kehilangan seluruh tenaga hingga ia nyaris terkulai dari kursi jika Bayu tidak dengan cekatan menangkap tubuhnya.​

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 376

    Maudy yang masih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Bayu bisa merasakan dada suaminya naik-turun karena sisa kekehan pelan. Aroma maskulin khas tubuh Bayu yang bercampur dengan sabun mandi malam benar-benar menjadi candu yang menenangkan bagi Maudy. Rasa cemas akibat ulah Tasya tadi siang seolah menguap begitu saja, digantikan oleh rasa aman yang teramat dalam.​"Tapi, Mas… Memangnya tadi di koridor tidak ada staf lain yang melihat? Maksudku, kalau Tasya sampai hampir jatuh begitu, apa sekretarismu tidak menolongnya?" Maudy mendongak lagi, menatap wajah tampan suaminya dengan mata bulatnya yang jernih.​Bayu menaikkan sebelah alisnya, jemarinya beralih memainkan ujung rambut Maudy yang bergelombang. "Sekretarisku? Dia justru berdiri kaku di belakangku sambil menahan napas. Begitu kami masuk lift, dia langsung batuk-batuk kecil menahan tawa. Aku rasa, kalau tidak ada aku di sana, dia sudah terpingkal-pingkal di depan wajah Tasya."​Maudy tidak bisa menahan senyumnya lagi. "Kamu

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 375

    Malam kembali menjemput kota, dan di dalam kamar utama yang hangat, suasana tenang itu kembali tercipta. Setelah makan malam bersama yang santai, Bayu dan Maudy kini sudah berada di atas tempat tidur. Bayu bersandar santai di kepala ranjang dengan kaos santai berwarna abu-abu, sementara Maudy merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya, menikmati irama detak jantung Bayu yang konstan. Sebelah tangan Bayu bergerak lambat, mengusap bahu Maudy dengan penuh kasih sayang.​"Sayang, kamu tahu tidak? Hari ini aku menonton sebuah pertunjukan komedi gratis di koridor kantor," celetuk Bayu tiba-tiba, memecah keheningan malam dengan nada suara yang terdengar sangat geli.​Maudy mendongak, menatap dagu kokoh suaminya dari bawah. "Komedi? Memangnya siapa yang melucu di kantor, Mas? Jangan bilang anak-anak direksi membuat masalah lagi."​Bayu terkekeh rendah, suara tawa baritonnya bergetar di dada, membuat Maudy bisa merasakannya langsung. "Bukan mereka. Tapi sepupumu yang luar biasa itu, Tasy

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 374

    ​Tasya berlutut di atas lantai marmer yang dingin, jemarinya memungut kertas-kertas laporan dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Ia mengatur napasnya agar terdengar sedikit terengah, sementara matanya melirik dari balik helaian rambutnya yang sengaja dibiarkan jatuh berantakan membingkai wajah pucat buatannya.Langkah kaki tegap itu berhenti. Sepasang sepatu pantofel hitam mengilat milik Bayu kini berada tepat dua jengkal di depan dokumen yang berserakan. Tasya mendongak perlahan, memasang sorot mata yang sayu dan penuh kilat kepasrahan.​"P-Pak Komisaris...Maafkan saya. Saya benar-benar ceroboh. Kepala saya sedikit pusing karena meninjau ulang laporan divisi semalaman, jadi fokus saya agak terganggu,” irih Tasya, suaranya dibuat bergetar seolah ia sangat terkejut sekaligus ketakutan setengah mati melihat kehadiran sang Owner. ​Tasya mencoba bangkit berdiri, namun ia sengaja membuat gerakannya limbung. Tubuhnya condong ke depan, berpura-pura kehilangan keseimbangan agar refleks

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 373

    Setelah kembali ke ruang kerjanya, Tasya mengunci pintu dengan rapat. Wajahnya yang semula pucat pasi karena ketakutan kini perlahan berubah menjadi merah padam oleh rasa geram yang membakar dada. Ia melempar tas sepatunya ke sudut ruangan dengan kasar.​"Kurang ajar!" geram Tasya, giginya mengatup rapat sembari mondar-mandir di balik meja manajernya.​Rasa malu didepan Silvy dan ancaman pemecatan dari Bayu bukannya membuat Tasya sadar, melainkan memicu sisi gelap dari keangkuhannya yang terluka. Dari dulu, keluarganya tidak pernah mau kalah dari keluarga Maudy. Baginya, Maudy tidak layak mendapatkan segalanya. Suami tampan yang kaya raya, kekuasaan mutlak, dan pengakuan sebagai mantan CEO perusahaan itu.​Tasya berjalan mendekati jendela kaca besar, menatap ke arah luar. Sebuah pemikiran licik mendadak melintas di otaknya yang buntu. Sumbu egonya yang sakit mulai merajut sebuah rencana baru.​"Kalau Maudy yang biasa-biasa saja bisa mendapatkan pria sekelas Bayu, kenapa aku tidak?" g

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 372

    Di dalam ruangan yang mendadak terasa sekecil kotak korek api itu, keheningan bergulir begitu menyiksa. Tasya masih berdiri mematung dengan bibir yang sedikit terbuka, namun tak ada satu pun patah kata yang mampu lolos dari tenggorokannya. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya, merusak kenyamanan setelan kerja mahal yang ia kenakan.​Bayu tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Tasya. Pria itu menarik sebelah tangannya dari saku celana, lalu mengetukkan ujung jemarinya di atas tas belanja berisi sepatu hak tinggi milik Tasya. Bunyi ketukan itu terdengar ritmis, seolah sedang menghitung sisa waktu harga diri Tasya yang berada di ambang kehancuran.​"Jika pendengaran saya tidak salah. Anda baru saja mengancam akan memberikan nilai merah pada evaluasi kerja Sekretaris Silvy jika dia menolak menjadi pelayan pribadi Anda?" Bayu kembali bersuara dengan nada yang tenang dan mengerikan.​Tasya refleks menggelengkan kepala dengan cepat, matanya berkaca-kaca karena panik. "B-bukan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 135

    Maudy menarik napas dalam, mengabaikan eksistensi Rio yang terus mengoceh di belakangnya seperti bayangan yang tak diinginkan. Dia lekas keluar dari ruangan itu, lalu segera memandu ibunya masuk ke dalam taksi yang telah dipesan Bayu sebelumnya. “Maudy, apa kamu tidak dengar! Aku masih belum sele

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 5

    Ponsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang. “Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan.

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 4

    Satu jam sudah Bayu berdiri di balik pintu. Sementara Maudy, dia tetap pada posisinya. Duduk bertekuk lutut di sudut kasur. Tidak bergerak dan juga tidak ada niatan merealisasikan ancamannya.Kaki Bayu mulai merasa pegal. Sejak tadi dia sudah berusaha mengabaikan rasa pegalnya,, tapi kali itu dia s

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 3

    “Saya cuma mau membantu Bu Maudy berdiri. Lantai itu kotor, dan harus saya pel,” ucap Bayu dengan pelan sambil mulai duduk di dekat Maudy. Dia juga sedikit mengulurkan tangan, barangkali Maudy meraihnya. Akan tetapi, yang ada Maudy menepis tangannya dengan kasar lalu melempar sebuah brosur tebal k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status