Se connecterHari demi hari terus bergulir, melangkah lambat bersama dengan perubahan musim yang kian tak menentu. Tuan Pradipta akhirnya diizinkan pulang oleh tim dokter setelah kondisinya dinyatakan cukup stabil untuk menjalani rawat jalan di rumah. Rumah megah keluarga Pradipta yang biasanya sunyi kini terasa semakin sepi, diselimuti oleh kecemasan yang menggantung pasca-tragedi kesehatan sang kepala keluarga.Di kamar tidurnya yang luas, Alena duduk termenung di balik meja riasnya. Sudah berjam-jam ia hanya menatap kosong ke arah deretan botol parfum mahal tanpa berniat menyentuhnya. Pikirannya masih larut dalam kebimbangan yang teramat dalam, sebuah labirin gelap yang ia ciptakan sendiri.Di satu sisi, ia ditekankan oleh pesan sang papa untuk bersikap realistis, menelan harga diri, dan mendekati Bayu murni sebagai rekan bisnis demi menyelamatkan aset keluarga yang di ambang kehancuran. Namun, di sisi lain, bayangan tentang bagaimana ia harus terus menyaksikan kemesraan Bayu dan Maudy dari j
Hari-hari berikutnya di rumah sakit berjalan dengan ritme yang teramat lambat dan menyiksa bagi Alena. Aroma cairan antiseptik yang tajam, bunyi monoton dari mesin indikator jantung, serta dinding-dinding putih kamar perawatan VIP itu seolah menjelma menjadi penjara yang mengurung pikirannya.Sepanjang waktu ia duduk termenung di sofa sudut ruangan, pandangan matanya kosong menatap lurus ke depan, namun isi kepalanya berputar tanpa henti. Ucapan Rio di telepon hari itu terus mendengung di telinganya bagai kaset rusak yang tak bisa dimatikan.“Meski rendahan, tapi kemungkinan berhasilnya sangat besar... Daripada cara terhormat tapi gagal total.”Kata-kata itu bergesekan dengan rasa sakit hati yang teramat dalam kepada Bayu. Setiap kali Alena memejamkan mata, memori di koridor UGD tempo hari kembali terputar dengan begitu jelas. Ia mengingat bagaimana Bayu melangkah mundur, menghindarinya seolah-olah dirinya adalah wabah penyakit yang menjijikkan. Ia mengingat tatapan dingin pria itu
Pada saat yang bersamaan, Sedan hitam milik Bayu melaju dengan kecepatan sedang, membelah aspal jalanan ibu kota yang mulai merayap padat menjelang siang. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, suasana mencekam yang tadinya menyelimuti perjalanan menuju rumah sakit kini telah sepenuhnya mencair. Hawa dingin dari pendingin ruangan terasa menyegarkan, mengusir sisa-sisa ketegangan yang sempat memuncak di koridor IGD beberapa saat lalu.Bayu mengemudikan mobilnya dengan satu tangan, sementara tangan kirinya perlahan bergerak ke samping, mencari jemari Maudy yang bertumpu di atas pangkuannya. Setelah menemukannya, Bayu menyisipkan jari-jarinya, menggenggam telapak tangan wanita itu dengan sangat erat seolah sedang menyalurkan seluruh rasa lega dan kagum yang membuncah di dalam dadanya.Ia melirik Maudy sekilas melalui sudut matanya. Wanita itu tampak menatap ke luar jendela, membiarkan bias cahaya matahari siang menerpa profil wajahnya yang kini terlihat jauh lebih tenang dan tegap."M
Tuan Pradipta sudah dipindah ke ruang perawatan. Suasana di dalam ruang perawatan VIP itu terasa begitu sunyi dan tenang. Bunyi ritmis dari mesin pemantau detak jantung yang terpasang di samping ranjang Tuan Pradipta terdengar konstan, memecah keheningan ruangan bernuansa putih bersih tersebut. Tuan Pradipta tampak terbaring lemah dengan selang oksigen yang masih terpasang di hidungnya, matanya terpejam rapat di bawah pengaruh obat bius dan penenang dari dokter.Alena duduk di kursi kayu di samping ranjang, menatap wajah sayu sang ayah yang tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Rasa bersalah masih menggelayuti hatinya. Sentuhan jemarinya pada punggung tangan ayahnya terasa begitu hampa.Tepat saat Alena hendak menyandarkan punggungnya untuk sedikit melepas lelah, keheningan itu mendadak buyar oleh getaran konstan dari dalam tas jinjingnya. Ponselnya berdering, menampilkan sebuah nomor tanpa nama yang sudah sangat ia hafal.Alena menarik napas dalam-dalam, menatap layar ponse
Suasana di koridor depan ruang Unit Gawat Darurat itu mendadak hening seketika. Gesekan emosi dan ketegangan yang baru saja memercik antara Maudy dan Alena seolah menguap begitu saja ke udara, tergantikan oleh fokus mutlak yang tertuju pada sosok pria berjas putih di hadapan mereka. Semua yang ada di sana menahan napas, membiarkan waktu bergulir lambat dalam kecemasan yang bergelayut tebal.Bayu melangkah selangkah ke samping Maudy, bersedekap dada dengan tatapan yang tetap waspada. Sementara Cindy berdiri sedikit di belakang mereka, ikut memasang telinga dengan saksama. Alena sendiri tampak meremas kedua telapak tangannya yang basah oleh keringat dingin, matanya menatap lekat-lekat pada bibir sang dokter, menunggu vonis yang akan menentukan nasib ayahnya, dan juga nasib rencana besarnya.Dokter paruh baya itu mengembuskan napas pendek, lalu mengulas seulas senyum tipis yang sarat akan profesionalisme untuk menenangkan suasana yang mencekam."Syukurlah Nona. Tuan Pradipta sudah ber
Bayu mengambil napas dalam-dalam, bersiap untuk mengeluarkan kata-kata paling tajam demi memutus harapan Alena dan memperingatkan wanita itu agar menjaga jarak. Rahangnya mengatup rapat, dan kilat kemarahan di matanya sudah tidak lagi bisa disembunyikan. Namun, sebelum sepatah kata pun sempat keluar dari bibir Bayu, sebuah suara yang teramat tenang dan jernih tiba-tiba memotong keheningan di antara mereka.Maudy melangkah maju. Gerakannya sangat lambat, namun memancarkan keanggunan dan ketegasan yang mutlak. Rasa syok yang sempat membuat tubuhnya lemas beberapa menit lalu kini seolah menguap, digantikan oleh kekuatan baru yang muncul dari harga dirinya sebagai seorang wanita yang tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak lagi oleh situasi.Maudy menatap lurus ke dalam manik mata Alena yang masih berlinang air mata, sebelum akhirnya angkat bicara."Nona Alena, tenanglah. Dokter spesialis dan tim ahli terbaik dari rumah sakit ini sudah menangani Papa Anda di dalam. Mereka sedang
Keheningan di kamar hotel itu terasa begitu pekat, seolah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot oleh pengakuan mengerikan yang baru saja terlontar. Maudy masih mematung di tepi ranjang. Tatapannya kosong, tertuju pada foto yang tergeletak di lantai. Foto yang kini tampak seperti potongan bukt
Maudy hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Bayu, lalu beralih menatap Lyra dengan raut wajah tidak enak hati. "Maaf ya, Lyra. Bayu memang begitu, dia OB yang sedikit bandel di sini. Jangan dimasukkan ke hati ucapan lancangnya tadi," ucap Maudy meminta maaf pada Lyra. Lyra hanya tertawa k
Bayu menepi di bawah pohon rindang yang agak jauh dari butik itu. Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Rio tengah tertawa mesra bersama wanita itu. Jarinya gemetar, berada hanya beberapa milimeter di atas tombol Kirim ke kontak Maudy. "Kalau aku kirim sekarang, apa yang terjadi?Bu Mau
Mobil yang dikendarai Ayah dan Ibu Maudy melaju menembus kesunyian malam. Namun suasana di dalamnya jauh dari kata tenang. Begitu gang sempit kontrakan Bayu menghilang dari spion, Ibu Maudy tiba-tiba melepaskan pegangan di pelipisnya. Ia duduk tegak, napasnya kembali teratur, dan sorot matanya yang






