Miriam berdehem pelan sebelum membuka suara. “Vio, kalau nanti Tante aturkan waktu supaya kamu bisa bertemu dan berkenalan lagi dengan Kaelix, kamu bersedia?” Viona tersenyum dan mengangguk tanpa ragu. “Tentu saja, Tante.” “Kamu tidak sibuk, kan?” tanya Miriam memastikan. “Tidak.” Viona menggeleng pelan. “Kalau untuk Tante, saya pasti punya waktu.” Senyum Miriam semakin lebar. “Bagus.” Wanita paruh baya itu kemudian bangkit dari duduknya. “Kalau begitu, Tante antar sampai teras.” “Iya, Tante.” Keduanya berjalan berdampingan meninggalkan ruang tamu. Namun baru saja mereka melewati pilar besar di dekat pintu masuk, pintu utama terbuka dari luar. Sosok tinggi dengan setelan jas gelap masuk dengan langkah tenang. Kaelix. “Kael,” sapa Miriam seketika. Pria itu menghentikan langkahnya dan mengalihkan pandangan. “Kebetulan sekali kamu datang.” Tatapan Miriam berpindah dari putra sulungnya kepada Viona. Senyum puas terukir di wajahnya. “Apa ini yang namanya berjodoh?” Mata Kael
Read more