مشاركة

BAB 187

مؤلف: Langit Parama
last update تاريخ النشر: 2026-07-01 00:04:27

“Selamat siang, Tuan. Silakan masuk,” sapa perawat pribadi Mahendra dengan sopan sembari membuka pintu apartemen lebih lebar.

Kaelix mengangguk singkat. “Terima kasih.”

Dengan langkah tenang dan berwibawa, pria itu masuk ke dalam apartemen. Setelan jas gelap yang dikenakannya masih rapi meski baru saja menyelesaikan pekerjaannya.

Kedua tangannya berada di dalam saku celana, sementara tatapannya menyapu ruangan sekilas.

“Nak Kael.”

Suara Mahendra membuat Kaelix mengalihkan perhatian.

Pria
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 322

    “Untung Papa ada di sekolah kamu tadi. Kalau tidak, mungkin sampai sekarang kamu masih menunggu di sana.” Raka mengusap pelan kepala putrinya. “Mama, Kakek, sama Nenek mungkin terlalu sibuk sampai lupa kalau ada Sherly yang harus dijemput.” Sherly langsung mencebik. Raka tersenyum tipis, berusaha menghibur. “Papa sebenarnya selalu ada di dekat kamu, Sher. Papa sering datang ke sekolah dan melihat kamu dari jauh.” “Tapi kenapa Papa gak pernah nyamperin?” Raka terdiam sesaat. “Karena Papa takut.” “Takut Mama marah?” Raka mengangguk. “Papa takut Mama kamu gak mengizinkan Papa dekat sama kamu.” Sherly menunduk, jemarinya memainkan ujung bajunya. “Tapi Papa lebih jahat.” Raka tertegun. “Papa ninggalin Sherly sama Mama.” Suara bocah itu bergetar. Raka menghela napas panjang, lalu menarik putrinya mendekat. “Papa gak pernah bermaksud meninggalkan kamu, Nak. Tapi Mama yang meminta Papa pergi.” “Nggak!” Sherly menggeleng kuat. “Mama bilang Papa melakukan kesalahan. Makanya Papa per

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 321

    “Jadi seperti itu kejadiannya, Pa?” tanya Kaelix. Nada suaranya terdengar datar, tetapi sorot matanya menyimpan kekhawatiran yang sulit disembunyikan. Mahendra mengangguk perlahan. “Maafkan Papa, Kaelix. Ini kesalahan Papa karena tidak bisa menjaga putri Papa sendiri dari ibunya.” Ia menundukkan kepala sesaat. “Papa ada di rumah yang sama. Seharusnya Papa bisa mencegah semuanya sebelum terjadi. Tapi Papa terlambat menyadari keadaan, sampai akhirnya Sasqia harus berhadapan dengan ibunya saat kondisi tubuhnya sedang lemah.” Kaelix menarik napas panjang. Ia tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih kepada brankar di sampingnya, tempat Sasqia masih terbaring dengan wajah pucat dan mata terpejam. Jemari Kaelix kembali menggenggam tangan istrinya. “Yang penting sekarang Sasqia baik-baik saja, Pa.” Mahendra mengangguk pelan. “Saya hanya takut sesuatu terjadi pada dia dan bayinya. Terima kasih sudah membawanya ke rumah sakit dengan cepat.” Kaelix hendak melanjutkan, tetapi tiba-tib

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 320

    “Apa yang terjadi pada istri saya, Pa?” desak Kaelix dengan nada dingin. Mahendra menarik napas berat. “Kaelix ... Sasqia—” Sambungan mendadak terputus. “Pa?” Kaelix menatap layar ponselnya. “Papa?” Tak ada jawaban. Wajahnya berubah pucat. “Zidan.” Ia berbalik cepat. “Ke rumah sakit. Sekarang.” Zidan yang sejak tadi berdiri di balik pagar segera bergerak setelah melihat perubahan wajah majikannya. Ia bergegas kembali ke mobil dan mengambil posisi di balik kemudi. “Cepat.” Satu kata itu keluar dari bibir Kaelix dengan suara rendah, tetapi penuh tekanan. Zidan langsung menyalakan mesin. Mobil melesat meninggalkan halaman rumah Sasqia, membelah jalanan menuju rumah sakit yang disebutkan Mahendra dalam panggilan terakhir. Di kursi belakang, Kaelix terus menatap layar ponselnya. Nomor Mahendra masih tercatat di riwayat panggilan. Ia mencoba menelepon kembali. Tidak tersambung. Sekali lagi. Tetap tidak ada jawaban. “Sayang ...,” gumamnya lirih. Tangannya mengepal di atas paha.

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 319

    “Cerai?” kening Sasqia berkerut. Ia menatap ibunya dengan sorot mata penuh kebingungan. “Apa maksud Mama? Qia bener-bener gak ngerti.” Soraya justru tertawa sinis. “Jangan pura-pura bodoh. Selama ini Papa kamu gak pernah membicarakan perceraian. Tapi hari ini, tiba-tiba dia meminta cerai dari Mama.” Tatapan Soraya semakin tajam. “Dan sekarang Mama menemukan kamu ada di rumah ini.” Sasqia membulatkan mata. “Jadi Mama nyalahin aku? Aku gak tahu apa-apa, Ma. Aku tidur di kamar. Papa sendiri yang nyuruh aku istirahat. Begitu bangun, aku langsung turun karena haus.” Soraya mendengus keras. “Sasqia, berhenti berpura-pura!” Nada suaranya meninggi. “Kamu pikir Mama lupa? Sejak awal, siapa yang meminta Papa kamu menceraikan Mama?” Sasqia terdiam sesaat. “Mama masih bahas itu? Aku gak pernah minta Papa cerain Mama, kalau Papa ngelakuin itu pasti atas kemauan sendiri.” Soraya mencibir. “Jadi sekarang kamu mau bilang Mama yang salah?” “Aku gak bilang begitu.” Sasqia menghela napas, berusah

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 318

    “Ma-maksud Mas ... apa?” Sorot mata Soraya berubah tajam. Wajahnya seketika memucat, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Mahendra tetap duduk tenang. Tak ada nada tinggi. Tak ada kemarahan. Dan justru ketenangan itulah yang membuat suasana terasa semakin mencekam. “Saya ingin bercerai. Saya akan mengurus gugatan ke pengadilan besok. Kamu tinggal menghadiri persidangannya.” Soraya menggeleng keras. “Nggak. Aku gak mau cerai.” Mahendra menatapnya tanpa ekspresi. “Itu hakmu. Kalau kamu menolak, biar hakim yang memutuskan.” Soraya maju beberapa langkah. “Apa alasan Mas tiba-tiba mau cerai? Kenapa sekarang? Kenapa bukan dari dulu?” Mahendra menghembuskan napas panjang. “Karena sebelumnya, saya menganggap semua kesalahan yang kamu lakukan hanya karena sifat keras kepalamu. Saya memilih bertahan demi anak-anak, demi keluarga yang sudah kita bangun selama puluhan tahun.” Tatapannya perlahan berubah sendu. “Tapi saya salah. Saya terlalu lama menutup mata, saya ter

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 317

    “Ini kabar yang sangat membahagiakan, Sas,” bisik Mahendra lirih. Suaranya terdengar bergetar ketika perlahan melepaskan pelukan putrinya. Kedua tangannya masih menggenggam bahu Sasqia, seolah ingin memastikan bahwa semua ini benar-benar nyata. “Papa bersyukur sekali.” Sasqia tersenyum lebar. “Iya, Pa. Mungkin Tuhan akhirnya mengabulkan semua doa Papa.” Mahendra menggeleng pelan sambil tersenyum. “Bukan cuma doa Papa. Ini juga hasil perjuangan kamu dan Kaelix. Kalian tidak menyerah, terus berusaha, terus saling menguatkan. Itulah yang akhirnya membuahkan hasil.” Sasqia mengangguk pelan. “Iya. Kalau dipikir-pikir ... semua ini juga karena aku sempet berhenti minum jamu itu.” Mahendra mengernyit. “Maksudnya?” “Selama di Swiss aku udah gak pernah minum lagi. Bahkan sebelum berangkat, Ibu mertuaku sempat melarangku mengonsumsi jamu itu bersamaan dengan program hamil.” Mahendra tampak terkejut. “Ibu mertua kamu tahu soal jamu itu?” Sasqia menggeleng. “Beliau gak tahu isi jamunya. T

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 29

    Suara sendok beradu pelan dengan piring. Sasqia membeku. Kakek mengangkat alisnya tinggi. Kaelix tersenyum tipis—bukan karena terhibur, melainkan karena tertantang. Sementara Sasqia merasakan jantungnya berdetak tidak wajar. Tristan tetap tenang, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sepenu

    last updateآخر تحديث : 2026-03-21
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 17

    Lebih bagus? Untuk dia? “Kapten.” Sasqia menggeleng tegas, berusaha mengusir debar aneh di dadanya. “Tidak perlu. Saya hanya perlu mengambil kembali kalung yang Mama saya ambil.” Tristan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Tatapannya tenang, namun sulit ditebak. “Jadi

    last updateآخر تحديث : 2026-03-19
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 15

    Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?

    last updateآخر تحديث : 2026-03-18
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 14

    Sasqia spontan berbalik. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat kembali ke arah mobil. “Sas? Mau ke mana?” Jevier menoleh kaget, lalu segera menyusulnya. “Sas, tunggu!” Namun Sasqia tak menghiraukan panggilan itu. Ia terus berjalan, hampir setengah berlari, seola

    last updateآخر تحديث : 2026-03-18
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status