เข้าสู่ระบบDokter Maya menatap monitor beberapa detik lagi untuk memastikan temuannya. Jemarinya menekan beberapa tombol pada mesin USG, lalu mengukur sebuah titik kecil yang tampak di layar. Senyumnya perlahan mengembang. Ia menoleh ke arah pasangan suami istri itu. “Selamat,” suaranya terdengar hangat. “Kehamilannya sudah terlihat.” Sasqia membeku. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak satu kata pun keluar. Tatapannya bergantian antara dokter, monitor, lalu Kaelix. “Dok,” suaranya bergetar. “Jadi … saya benar-benar hamil?” Dokter Maya mengangguk mantap. “Iya.Selamat. Anda benar-benar sedang mengandung.” Air mata langsung memenuhi kedua mata Sasqia. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, tangis haru pecah tanpa bisa ditahan. “Aku … aku hamil,” gumamnya berulang-ulang, seolah masih tidak percaya. Di sampingnya, Kaelix juga terdiam. Pria yang selama ini selalu terlihat tenang itu hanya menatap layar USG tanpa berkedip. Tatapannya perlahan bergeser kepada wajah istrinya yang sedang menang
Pintu ruang pemeriksaan tertutup perlahan di belakang mereka. Ruangan itu terasa hangat. Berbeda dengan hiruk-pikuk di luar, suasana di dalam justru begitu tenang, sementara aroma antiseptik yang samar memenuhi udara. Di sisi kanan terdapat ranjang pemeriksaan. Di depannya, sebuah monitor USG masih dalam keadaan mati. Dokter Maya bangkit dari kursinya begitu melihat keduanya masuk. Senyum hangat langsung terukir di wajah wanita paruh baya itu. “Selamat malam. Silakan duduk dulu.” “Terima kasih, Dok,” balas Kaelix sopan. Sasqia duduk di samping sang suami. Meski berusaha tampak tenang, kedua telapak tangannya saling bertaut erat di atas pangkuan. Dokter Maya memperhatikan raut gugup wanita itu lalu tersenyum kecil. “Kelihatannya tegang sekali.” Sasqia terkekeh pelan. “Iya, Dok. Jujur ... saya takut.” “Takut kenapa?” Sasqia menundukkan kepala sesaat. “Takut berharap terlalu tinggi, takut ternyata saya belum hamil.” Suasana mendadak hening. Dokter Maya mengangguk pelan seolah
Malam itu, suasana meja makan terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Sherly duduk di kursinya sambil memainkan sendok kecil di tangan. Sejak tadi, matanya berkali-kali melirik ke kursi kosong yang biasa ditempati sang ibu. “Nenek,” panggilnya pelan. Soraya yang sedang menyuapkan nasi ke mulutnya segera mengangkat kepala. “Iya, Sayang?” “Mana Mama? Kok belum pulang-pulang?” Pertanyaan polos itu membuat Soraya menarik napas panjang. Ia sempat melirik Mahendra sekilas sebelum kembali menatap cucunya. “Mama kamu lagi ada urusan penting, Sher. Kalau urusannya sudah selesai, Mama pasti pulang.” Sherly mencebik, tatapan polosnya kini beralih kepada sang kakek. “Padahal Kakek kemarin janji mau telepon Mama. Tapi sampai sekarang belum.” Mahendra membuka mulut, hendak menjelaskan. Namun Soraya lebih dulu menyela. “Itu karena Mama kamu belum bisa dihubungi. Lagi sibuk bekerja.” Ia mengusap lembut kepala Sherly. “Mama kerja juga buat Sherly, kan? Jadi anak pintar harus sabar. Nanti kalau
Waktu seolah berhenti, tatapan Kaelix membeku. “Apa? Maksudnya ... ha-hamil?” suara pria itu nyaris tak terdengar. Dokter mengangguk penuh keyakinan. “Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Usianya masih sangat muda.” “Untuk memastikannya seratus persen, nanti kita lakukan pemeriksaan darah dan USG di rumah sakit. Tapi dari kondisi Nyonya, kemungkinannya sangat besar.” Kaelix masih berdiri mematung. Tatapannya perlahan beralih kepada Sasqia yang masih tertidur lemah di atas ranjang. Wanita yang selama ini menangis karena merasa gagal menjadi seorang ibu, wanita yang berkali-kali menyalahkan dirinya sendiri kini sedang membawa kehidupan baru di dalam rahimnya. “Kalau begitu, terima kasih, Dok.” Kaelix menghembuskan napas lega yang sejak tadi seolah tertahan di dadanya. “Begitu istri saya sadar, saya akan langsung membawanya ke rumah sakit. Saya ingin memastikan semuanya lewat USG.” Dokter wanita itu mengangguk sambil tersenyum hangat. “Itu keputusan yang tepat
“Permisi, Pak.” Arlan mengetuk pintu lebih dulu sebelum melangkah masuk ke ruang kerja Kaelix. Kaelix yang sejak tadi fokus menatap layar laptop hanya melirik sekilas. “Ada apa?” “Siang ini Bu Sasqia sempat datang ke kantor polisi,” beritahu Arlan dengan nada sopan. Jemari Kaelix yang sedang mengetik perlahan berhenti. “Menemui Shiren?” Arlan mengangguk. “Iya, Pak.” “Ada keributan?” “Tidak ada.” Arlan tersenyum tipis. “Nyonya hanya berbicara beberapa saat, lalu langsung pulang. Sekarang beliau sudah berada di rumah.” Raut wajah Kaelix sedikit melunak. “Syukurlah.” Ia menghembuskan napas lega. “Kalau begitu, tidak ada lagi?” “Tidak ada, Pak.” “Baik. Kamu bisa kembali bekerja.” “Baik, Pak.” Arlan membungkukkan badan singkat sebelum keluar meninggalkan ruangan. Pintu kembali tertutup, ruangan itu kembali sunyi. Kaelix menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja. Tatapannya perlahan beralih ke sebuah figura kecil yang berdiri di sudut meja, ia meraihnya. Di dalam bingkai itu tersi
Pagi itu, Sasqia datang ke kantor polisi seorang diri. Ia duduk di ruang kunjungan dengan kedua tangan saling menggenggam di atas meja. Tatapannya terus mengarah ke pintu besi di ujung ruangan. Tak lama kemudian suara langkah kaki terdengar mendekat. Seorang polisi wanita muncul sambil menggiring Shiren, kedua tangan wanita itu telah diborgol di depan tubuhnya. Begitu melihat sang adik duduk di sana, langkah Shiren sempat terhenti. “Sas ….” gumamnya lirih. Polisi mempersilakan Shiren duduk sebelum akhirnya mundur beberapa langkah, tetap berjaga di dekat pintu. Ruangan kembali hening. Sasqia menatap wajah kakaknya cukup lama. Matanya memerah, namun bukan karena marah, melainkan kecewa. “Aku dateng bukan buat ngebela Kakak,” suara Sasqia terdengar tenang. “Aku cuma pengen denger langsung.” “Kenapa?” Shiren mengalihkan pandangannya. “Gak ada yang perlu dijelasin.” Sasqia tersenyum hambar. “Masih mau bohong? Kakak tahu gak, berapa kali aku maafin Kakak? Dan mencoba buat percaya
“Apa yang mereka lakukan di dalam?” Kaelix bergumam lirih sambil menatap langit malam yang bertabur bintang. Ia duduk seorang diri di bangku taman vila, diterangi cahaya lampu kekuningan yang temaram. Di antara jemarinya, sebatang rokok menyala redup. Bara merah di ujungnya berkedip setiap kali i
“Sssh ….” Sasqia meringis pelan ketika Tristan mengoleskan salep pada lututnya yang mulai membiru. “Tahan sedikit. Sebentar lagi selesai,” ujar Tristan lembut. Ia berjongkok di hadapan Sasqia yang duduk di tepi ranjang. Gerakannya hati-hati, nyaris terlalu hati-hati untuk sekadar mengobati luka
Suara sendok beradu pelan dengan piring. Sasqia membeku. Kakek mengangkat alisnya tinggi. Kaelix tersenyum tipis—bukan karena terhibur, melainkan karena tertantang. Sementara Sasqia merasakan jantungnya berdetak tidak wajar. Tristan tetap tenang, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sepenu
Lebih bagus? Untuk dia? “Kapten.” Sasqia menggeleng tegas, berusaha mengusir debar aneh di dadanya. “Tidak perlu. Saya hanya perlu mengambil kembali kalung yang Mama saya ambil.” Tristan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Tatapannya tenang, namun sulit ditebak. “Jadi







