“Tante Qia, kenapa gak tinggal di sini aja?” tanya Sana polos pagi itu. Ia sedang duduk di ayunan taman belakang mansion, kedua kakinya mengayun pelan. Sasqia yang duduk di sampingnya tersenyum kecil. “Memangnya kenapa?” “Pasti seru,” jawab Sana antusias. “Kalau Om Kael sama Tante Qia tinggal di sini, Sana jadi punya temen.” “Memangnya selama ini Sana gak punya teman di mansion?” kedua alis Sasqia terangkat, bibirnya membentuk senyum yang manis. Bocah kecil itu langsung menggeleng. “Nggak punya. Papa Tristan galau terus.” Sasqia mengerjapkan matanya pelan. “Galau?” Sana mengangguk cepat. “Iya. Kadang Papa melamun. Kadang nangis juga. Nggak seru.” Seketika senyum di wajah Sasqia memudar, dadanya mendadak terasa sesak. “Nangis ... kenapa, Sayang?” tanyanya hati-hati. Sana menatap wajah Sasqia cukup lama. Bibir mungilnya sempat terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun beberapa detik kemudian ia hanya menggeleng pelan. “Sana gak tahu.” Sasqia menelan ludahnya perlahan. I
Read more