“Sher, udah ya berenangnya,” panggil Sasqia lembut sambil berdiri di tepi kolam. Langit kini benar-benar gelap, jam sudah menunjukkan pukul sembilan, dan angin malam berhembus semakin dingin. “Nanti masuk angin.” Sherly yang masih berada dalam gendongan Kaelix langsung mendongak. “Iya, Tante.” Bocah itu mengusap kedua lengannya yang mulai menggigil. “Sherly juga udah kedinginan.” Ia menoleh kepada Kaelix. “Yuk, Om ... naik. Nanti kita masuk angin.” Kaelix mengangguk pelan. “Baik.” Dengan hati-hati, ia membawa Sherly menuju anak tangga kolam, lalu mengangkat tubuh mungil itu keluar dari air. Begitu kaki Sherly menapak lantai, Soraya segera menghampiri sambil membawa handuk. “Aduh, cucu Nenek ini nakal banget berenang malam-malam.” Soraya membungkus tubuh Sherly dengan handuk tebal. “Ayo, kita mandi air hangat.” Mahendra ikut mendekat sambil tersenyum. “Kakek gendong, ya.” “Iya!” Sherly langsung mengulurkan kedua tangannya. Mahendra menggendong cucunya, sementara Soraya berj
Read more