“Ini, Nyonya. Buah-buahan yang Anda minta.” Mbok datang dari arah dapur sambil membawa sepiring buah yang sudah dipotong rapi. Potongan melon, apel, pir, pepaya, dan stroberi tersusun memenuhi piring. Sasqia yang duduk santai di sofa langsung tersenyum. “Terima kasih, Mbok. Taruh di sini saja.” Mbok meletakkan piring tersebut di atas meja. “Untuk minumnya, Nyonya mau saya buatkan apa? Jus atau air putih?” “Susu ibu hamil rasa vanila aja, Mbok. Yang dibelikan Mas Kael.” Sasqia menunjuk botol air mineral di sampingnya. “Sama air putih juga, ya.” “Baik, Nyonya. Saya siapkan dulu.” “Iya.” Setelah Mbok kembali ke dapur, Sasqia mengambil sepotong stroberi dan memasukkannya ke dalam mulut. Namun baru beberapa detik ia menikmati buah tersebut, suara langkah kaki terdengar dari arah lorong. Tak. Tak. Tak. Sasqia menghentikan gerakannya. Ia menoleh. Sosok seorang wanita berdiri di ambang ruang tengah. Seketika wajah Sasqia berubah. “I-Ibu?” Miriam tidak menjawab. Tatapannya justru m
Read more