Bimo menelan ludahnya kasar, keringat dingin membasahi pelipisnya. Moncong pistol itu terasa sangat dingin di keningnya, mengingatkan bahwa maut hanya berjarak satu tarikan pelatuk. Di tengah rasa mual yang melilit perutnya, insting bertahan hidupnya terus berteriak."O-oke... oke, Mami. Maafkan aku," ucap Bimo dengan suara bergetar, berpura-pura menyerah. "Aku hanya... aku hanya kaget karena belum pernah melihat kewanitaan yang cantik dan tembem seperti punya Mami. Tolong turunkan senjatanya."Mami Sandra menyeringai puas. Wanita gemuk meletakkan pistol itu di atas meja rias, namun tetap dalam jangkauannya. "Begitu dong, Sayang. Jangan jual mahal kalau kamu masih sayang dengan nyawamu. Karena kamu udah nurut dan jadi anak yang baik, Mami akan hisap punya kamu duluan. Ayo ikut Mami.”Tanpa membuang waktu, Mami Sandra menarik Bimo duduk di tepi ranjang kemudian berlutut di depan Bimo, mata sipitnya menatap lapar ke arah gundukan keras di balik celananya Bimo. Dengan cepat, tangannya
続きを読む