Vanya dengan tangan gemetar meraih ponselnya di atas nakas, sementara Bimo masih terus memompa pinggulnya dari bawah, memberikan sodokan-sodokan dalam. Semakin dalam semakin nikmat jepitannya. "Mas... jangan gerak dulu... ahh," bisik Vanya dengan nafas terengah-engah, mencoba menstabilkan suaranya sebelum menggeser layar ponsel.Bimo tak peduli karena sudah terbakar oleh gairah. Alih-alih berhenti, ia malah menarik tubuh Vanya lebih dekat dan kembali melumat puting payudaranya yang besar dengan hisapan yang sangat kuat, membuat Vanya memekik tertahan tepat saat sambungan telepon terhubung."Halo... Sayang?" suara Anto terdengar jernih dari speaker ponsel. "Kamu di mana? Kok suaramu kayak habis lari maraton gitu?"Vanya memejamkan mata erat-erat, meremas sprei tempat tidur rumah sakit saat Bimo menghujamkan keperkasaannya tepat ke mulut rahimnya, "Ah…iya, Sayang. Aku... aku lagi habis beres-beres kamar soalnya berantakan banget," jawab Vanya dengan suara yang bergetar. "Setelah b
続きを読む