"Bagaimana, Kim?" tanya Arsel dengan tatapan lekat.Kimmy menghela napas pelan. "Terserah," jawabnya lirih. "Aku sudah nggak punya pilihan lain, bukan? Ada orang yang ingin membunuh anak ini, dan di hadapanku ada orang yang ingin mencuci dosanya dengan menjadi pahlawan. Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan."Kalimat itu seperti pisau yang mengiris dada Arsel. Di mata Kimmy dirinya tetaplah monster, meski kini ia sedang mencoba menjadi penyelamat. Namun ditelannya rasa itu bulat-bulat. Yang penting sekarang adalah keselamatan Kimmy."Kim, makan dulu." Arsel menggeser piring croissant di depan Kimmy. "Tadi aku asal pesan agar bisa reservasi. Apa kamu ingin makanan yang lain? Nasi goreng? Atau sop hangat? Katakan saja, nanti kupesankan."Kimmy menggeleng lalu meraih gelas cokelat panasnya dan menyesap sedikit. Mbak Asih pun hanya minum saja. "Mas Arsel, kami harus lekas pulang. Karena waktu berangkat tadi, Bu Elok tahu.""Ya, Mbak. Kita lakukan sesuai rencana.""Nggih, Mas. Ayo, Mbak
Read more