"Mbak Asih, lihat obatku di laci? Yang botol putih?" tanya Kimmy dengan nada mendesak, matanya liar mencari-cari."Saya yang ngambil, Mbak.""Kenapa diambil? Aku nggak bisa tidur, Mbak. Aku bisa gila dengan mimpi-mimpi buruk itu.""Orang hamil nggak boleh minum obat sembarangan. Itu obat keras, Mbak. Bahaya buat janin."Kimmy seketika lemas. Kenyataan pahit kembali menyergapnya. Merampas satu-satunya solusi yang bisa membuatnya tidur lelap. Janin di dalam perutnya kini bukan hanya pengingat akan trauma, tapi juga mendikte apa yang boleh dan tidak boleh ia konsumsi. "Mbak Kimmy, jangan membiarkan diri tersiksa sendirian seperti ini. Bapak, Ibu, Mas Arsel harus tahu kalau Mbak Kimmy hamil.""Saya tahu apa yang akan mereka lakukan, Mbak. Pasti ingin membuang anak ini. Bagi mereka ini aib. Tapi bukankah itu lebih baik?"Mbak Asih berdesir mendengar perkataan Kimmy. "Mbak, ingat dosa. Mbak Kimmy, yang bisa melindungi anak ini. Semoga kelak jika dia dewasa, dialah yang akan menjadi garda t
Read more