LOGINSedangkan Kimmy sendiri juga masih menyimpan banyak pertanyaan. Kenapa sikap Arsel begitu dingin saat ia datang ke rumah itu. Padahal waktu pertama kali di sana, Kimmy ingin menyapanya. Melihat Arsel dengan sikap tak peduli, membuat Kimmy menjadi takut dan akhirnya selalu menghindarinya.Pasti sejak awal Arsel tidak suka dengan kehadirannya dan sang mama. Seperti dirinya yang sebenarnya menolak dengan pernikahan mereka. Namun Arsel bisa begitu manis memperlakukannya sekarang ini. Mungkin memang bentuk tanggung jawab, tapi bisa seperhatian ini sekarang. "Berdamai dengan kenyataan dimulai dari dirimu sendiri, Dek. Seperti yang pernah aku lakukan dulu pada Mas Daffa. Nggak ada salahnya memberikan kesempatan pada orang yang paling menghancurkan hati kita. Yang penting dia bersungguh-sungguh untuk berubah."Seperti Arsel, bisa loh dia nggak perlu nikahi kamu. Kalau khawatir menggugurkan, dia bisa mengasingkanmu tanpa menikahimu. Yang penting dia bertanggung jawab. Dia punya uang, nggak su
Suasana hening kembali. Kimmy meraih setangkai demi setangkai buah cherry dari mangkuk. Meninggalkan jejak lelehan air di sudut bibirnya. Perhatian Arsel berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Ada rasa gemas yang tiba-tiba menyerang dadanya dan menarik seluruh kewarasannya.Saat Kimmy hendak meraih tisu, Arsel mencondongkan tubuhnya. Jemarinya meraih dagu Kimmy. Lantas mengecup sudut bibir Kimmy yang masih menyisakan rasa manis buah cherry. Sentuhan itu memberikan getaran yang membuat Kimmy terpaku. Ia bisa menghirup aroma maskulin suaminya yang bercampur dengan wangi buah segar.Melihat Kimmy tak menolak, Arsel membopong tubuhnya ke pembaringan mereka. Tatapan mata saja sudah cukup untuk bicara, Arsel menginginkan istrinya dan Kimmy menerima. Buktinya ia pasrah. Arsel sudah berkorban banyak dan bertanggung jawab padanya, ia harus membalasnya.Selimut tebal menjadi saksi bisu bersatunya dua jiwa malam itu. Arsel lupa dengan peringatan Kimmy, sedangkan Kimmy sendiri tak kuasa menola
KAMU YANG KUCINTAI - 37 Lupakan Masa Lalunya Zareen segera menelepon Linda. Dia tak sabar kalau harus mengetik balasan pesan. "Halo, Reen.""Kamu yakin itu Arsel?" tanya Zareen untuk meyakinkan."Iya. Aku nggak mungkin salah lihat. Walaupun dia pakai masker, tapi aku tahu kalau dia Arsel. Posturnya aku hafal banget lah dengan cowokmu itu. Cuman aku sambil gendong anakku, jadi nggak sempat ngambil gambar. Waktu kukejar, dia sudah menghilang entah ke mana.""Perempuan itu bagaimana?" Zareen bertanya dengan rasa penasaran yang membuncah. Dadanya terasa penuh oleh rasa kecewa, cemburu, dan sakit. Air mata terus merambat ke pipi."Kamu lebih tinggi dari dia. Tubuhnya ramping. Cuman aku nggak bisa melihat wajahnya seperti apa. Dia mengenakan jilbab dan masker."Zareen terdiam. "Sebenarnya hubungan kalian bagaimana sih, Reen? Aku kaget loh. Masa iya Arsel yang kelihatan cool dan nggak neko-neko itu selingkuh darimu.""Kami sudah putus," jawab Zareen lirih. Lantas menceritakan tentang per
"Mbak Asih, aku masuk kamar dulu, ya. Aku ngantuk," ujar Kimmy saat jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. "Iya, Mbak. Biar saya kunci pintunya. Mas Arsel pasti malam baru tiba."Mereka beranjak dari sofa. Kimmy ke kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka. Lalu masuk kamar dan meringkuk di bawah selimut.Akan tetapi, lima belas menit kemudian. Ketika Mbak Asih hendak mematikan lampu ruang tamu, suara mobil terdengar di luar. Saat menyingkap gorden, disangkanya Tora yang datang. Tapi ternyata Arsel."Assalamu'alaikum, Mbak." Arsel mengucap salam."Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah, Mas Arsel datang lebih awal. Kami kira sampe tengah malam seperti biasanya.""Kimmy sudah tidur?""Mungkin belum. Baru juga masuk kamar. Mas Arsel, mau minum apa? Kopi apa teh?""Tidak usah. Mbak Asih, istirahat saja."Mbak Asih mengangguk lantas masuk ke kamarnya. Sedangkan Arsel melepaskan jaket, kemudian ke kamar mandi, baru masuk ke kamarnya Kimmy.Ia melangkah pelan. Memperhatikan Kimmy yang mering
Jalur ini memang penuh tantangan. Dulu sewaktu masih kuliah, beberapa kali lewat tempat ini saat touring dengan teman-temannya. Enjoy dan menikmati tantangan. Namun sekarang berbeda, karena ada yang menunggunya di sana. Ada istri dan calon anak yang bergantung hidup padanya. Ia harus hati-hati.🖤LS🖤[Mobil Mas Arsel ada di apartemennya, Pak.] Sebuah pesan masuk disertai foto mobil milik Arsel yang terparkir, diperhatikan oleh Pak Fardhan di layar ponselnya. Oh, ternyata benar. Arsel hanya ingin istirahat di apartemen.Pria itu menghela napas panjang dan meletakkan ponsel di atas meja. Kemudian menghampiri sang istri yang tengah melamun memandang layar televisi. Pak Fardhan mencium kening Bu Elok, baru duduk. "Jangan melamun. Kita masih terus mencari Kimmy," ujarnya."Sudah sebulan lebih, Mas. Gimana aku nggak sedih. Bagaimana keadaan Kimmy sekarang," jawab Bu Elok dengan tatapan sendu."Kita tetap mencarinya." Pak Fardhan mengusap lembut bahu sang istri. "Papa yakin dia baik-baik
KAMU YANG KUCINTAI - 36 ArselPadahal Arsel sudah berada di lajur kanan, hanya beberapa ratus meter lagi ia masuk gerbang tol Warugunung. Lalu meluncur menuju Mojokerto. Namun sekarang ia harus memikirkan alternatif lain. Jangan sampai Zareen mengikutinya dan akhirnya tahu keberadaan Kimmy.Dengan gerakan refleks, Arsel membanting kemudi ke kiri, mengambil arah menuju Karangpilang untuk menghilangkan jejak. Dari spion terlihat mobil Zareen masih mengikuti dengan mengambil jarak satu mobil di belakang mobilnya Arsel.Di jalur Mastrip yang berdebu dan padat oleh truk kontainer, Arsel menyalip dari sisi kiri dan masuk kembali ke celah sempit di antara dua bus kota. Di sinilah ia melihat mobil Zareen terjebak di belakang iring-iringan truk tangki dan kehilangan jejaknya.Begitu merasa jaraknya sudah cukup jauh, Arsel berbelok masuk ke sebuah area minimarket. Ia meraih ponsel untuk menghubungi Tora."Halo, Bos.""Bisa menemuiku di Karangpilang sekarang?" Arsel menyebut detail tempatnya be
KAMU YANG KUCINTAI - 12 Akhirnya TahuMbak Asih membuka pintu kamar dan Bu Elok sudah berdiri di sana. Sepertinya baru pulang, karena tasnya masih di tenteng."Gimana Kimmy tadi, Mbak? Saya lihat di kamarnya, dia sedang tidur.""Nggak apa-apa, Bu. Mbak Kimmy cuman konsultasi seperti biasanya. Sete
Mbak Asih memberanikan diri untuk mencegahnya. Dia sudah pernah melihat bagaimana seseorang menggugurkan kandungan lalu meninggal. Itu tetangganya sendiri, di desa sana."Mbak, tahu nggak. Sebingung apa saya saat ini.""Iya. Saya ngerti, Mbak. Maaf, saya nggak meremehkan kebingungan Mbak Kimmy. Tap
KAMU YANG KUCINTAI - 8 Kimmy Kimmy tercekat sejenak. Kemudian buru-buru menentramkan perasaannya yang bergemuruh melihat Arsel berhenti di bawah sana. Ia kembali melangkah. Sedangkan Arsel berhenti dan menepi. Ia cukup tahu diri. Karena bagi Kimmy, dirinya tak ubah seperti monster.Gadis itu mela
Sementara di luar sana, Mbak Asih duduk menunggu. Tadi sewaktu Kimmy berdiri di pinggir jalan, Mbak Asih nekat menghampiri. Dia memaksa ikut, walaupun Kimmy menolak dan menyuruhnya pulang. "Pokoknya saya harus ikut, Mbak.""Mbak Asih, disuruh sama Mama?" Sejak awal tahunya Kimmy, Mbak Asih disuruh







