Pagi harinya, saat mentari mulai terbit menyinari bumi. Jaka sudah berada kembali di dalam rumahnya, ia membersihkan peti kayu tersebut dari sisa-sisa tanah galian. Beno juga di sana, ia benar-benar terpana, tidak percaya di dalam hutan bambu di ujung desanya ternyata ada benda seperti ini.“Eh, Jang! Lo kok bisa tahu sih kalau di sana ada benda beginian?” tanya Beno penasaran. Pasalnya, banyak orang yang keluar masuk hutan tersebut di siang hari, tapi tidak ada satupun dari mereka yang tahu soal peti ini.Jaka menggeleng. “Gue juga enggak tau Ben, gue cuma mimpi semalam,” jawab Jaka polos dan apa adanya.“Eh, mimpi?” Beno mengernyit.“Iya, Ben.”Beno langsung memegang kening Jaka. “Lo sehat kan?”“Ah, apaan sih lo?” Jaka langsung menepisnya.“Ya habis, mana mungkin cok lo bisa tau karena mimpi,” ujar Beno lagi.“Terserah lo dah kalau enggak percaya.” Jaka tidak terlalu peduli, ia masih fokus menghitung jumlah koin di dalam peti tersebut.“28… 29… 30.”“Anjir, 30 puluh keping cok!” Ja
Read more