Tentu saja Jaka terkejut mendengar nama benda tersebut. “Arca Dewi Rengganis?” tanyanya memastikan.Farhat hanya mengangguk pelan, ia mulai mengambil kaca pembesar dari dalam tasnya dan mulai melihat detail-detail kecil patung tersebut. Farhat tampak begitu antusias dengan profesinya, bahkan Sinta yang duduk di sebelahnya seolah ia abaikan.“Ini gila… ini asli, bukan replika,” kata Farhat lagi. Dia benar-benar tampak serius, antusias, dan berdedikasi tinggi.“Jaka!” Ia menoleh.“I-iya Pak?” sahut Jaka gugup karena sedari tadi Sinta menatapnya sambil sesekali mengedipkan mata.“Patung ini kamu dapat dari mana?” tanya Farhat sambil menatap Jaka tanpa berkedip.“Itu, Pak, anu… saya—”“Bukan nyuri dari situs nasional, kan?”“Eh?! Bu-bukan dong, Pak,” jawab Jaka gagap. “I-itu enggak sengaja dapat di sungai Pak, waktu saya mancing,” katanya sedikit mengarang.Farhat mengernyit. “Di sungai?”“I-iya, Pak. Kenapa emangnya, Pak?” Jaka gugup, ia serasa sedang di interogasi di ruang sidang.“Hmm…
Read more