Di dalam, Jaka dan Beno disambut hangat oleh kepala desa tersebut. “Sore Pak Kades,” sapa Sukardi sopan. “Ini Pak, ada dua tamu yang mau melapor.” Lelaki paruh baya pemilik kumis tebal itu langsung bangkit dan mempersilahkan mereka duduk. “Oh iya, mari duduk dulu.” “Baik, Pak.” Pak Trisna—Kades Desa Labungan—segera memanggil istrinya untuk membuatkan minum. Dari sikap dan gelagatnya, tampak Pak Trisna cukup menghargai setiap tamu hang datang. “Bu, tolong buatin minum, Bu. Ini ada tamu.” “Iya, Pak. Baik.” Terdengar suara lembut wanita dari arah dapur. Pak Sukardi menyela. “Anu, Pak Kades. Saya enggak usah dibuatin minum, saya harus pulang. Saya cuma ngantar mereka.” “Oh, gitu ya Pak. Ya sudah, enggak apa-apa, Pak.” Pak Kades bangkit dan menjabat tangan Sukardi. “Terima kasih, Pak.” “Iya sama-sama Pak Kades, saya permisi dulu ya?” Sukardi menoleh dan tersenyum tipis ke arah Jaka dan Beno sebelum akhirnya meninggalkan rumah kepala desa itu. Tinggallah Jaka dan Beno d
اقرأ المزيد