“Hah, istri?” Sinta mendadak mematung. Matanya meneliti penampilan Arum dari ujung kaki hingga ujung kepala sebelum kembali menatap Jaka dengan tatapan tak percaya, seolah menuntut penjelasan. “Di-dia istri kamu, Jaka?” tanya Sinta dengan suara terbata-bata. “Hehe, i-iya, Mbak. Dia istri aku, namanya Arum Melati,” jawab Jaka sembari cengengesan salah tingkah. Glek! Sinta menelan ludahnya dengan susah payah, jantungnya mendadak berdegup kencang. Baru saja tadi hatinya membayangkan kesempatan untuk kembali mencuri kehangatan dan keperkasaan Jaka malam ini, namun kenyataan pahit justru menghantamnya: pria yang pernah membuat liang senggamanya membanjir basah itu kini sudah berstatus suami orang. “Mbak? Mbak Sinta! Kok malah bengong?” tegur Jaka heran. “Eh!” Sinta tersentak kaget, berusaha menguasai diri dari lamunannya. “Anu, i-itu—” “Jadi kita tetap ke rumah Mbak Sinta, kan?” potong Jaka lagi. “Hah? Emm… ja-jadi kok. Tapi…” Sinta menggantungkan ucapannya, ragu. Jaka mengernyit
Read more