Dengan langkah gemetar, Sekar akhirnya berjalan menghampiri Sari yang menunggunya di ambang pintu. Begitu ia tiba di sana, Sari langsung meraih tangannya dengan hangat. “Sekar, kamu tampak pucat. Kamu sakit?” tanya Sari sambil memperhatikan wajah Sekar yang terlihat tidak karuan. “A-anu, enggak Nona. Sa-saya enggak sakit,” jawab Sekar gugup, buru-buru menyembunyikan kegelisahannya. “Oh, ya sudah. Yuk, masuk!” Sari langsung menuntun Sekar masuk ke dalam rumah utama. Langkah kaki mereka mengayun pelan sebelum Sari mempersilahkannya duduk di atas tikar yang digelar di ruang tengah. “Sebentar ya, aku panggilin Jaka dulu,” kata Sari pelan sembari bersiap melangkah ke arah kamar. “A-anu, Nona. Enggak usah, biarin Tuan Jaka istirahat saja,” sela Sekar buru-buru. Jantungnya berdegup kencang, ia didera kepanikan luar biasa karena tidak mampu membayangkan jika harus bertatap mata langsung dengan Jaka—pria yang baru saja membuat pikirannya melayang jauh ke arah yang sangat memalukan. “Eng
اقرأ المزيد