Jaka terdiam sejenak, menetralisir sisa-sisa keganjilan yang masih berdesir di dalam aliran darahnya, sebelum akhirnya bersusah payah bangkit untuk duduk. “Sayang, jangan dipaksain dulu,” cegah Sari lembut, tangannya dengan sigap memegang bahu Jaka, khawatir raga suaminya belum pulih benar. Jaka hanya tersenyum tipis, menepuk pelan punggung tangan Sari. “Aku baik-baik aja.” Ia kemudian menggeser tubuhnya, duduk tenang di tepi ranjang sembari mendongak menatap Sigrid yang berdiri kokoh di hadapannya. Jaka menarik napas dalam-dalam, mencoba menyusun kalimat yang tepat. “Hmm… Tuan—” “Jangan panggil aku Tuan,” potong Sigrid cepat, menyela kalimat menantunya dengan nada bicara yang mendadak melunak. “Aku ini ayah dari istrimu, aku ini mertuamu. Mulai sekarang, panggil aku Ayah.” Mendengar ucapan tersebut, sepasang mata Sari seketika berkaca-kaca. Sepanjang hidupnya bertumbuh di bawah asuhan sang Kepala Suku yang terkenal keras dan disiplin, baru kali ini ia melihat ayahnya bersikap s
اقرأ المزيد