LOGINDeg!Dada Jaka berdesir hebat mendengar kata-kata Kandita. Matanya refleks mengarah ke titik yang ditunjuk oleh sang gadis—sejauh mata memandang menerobos kegelapan samudra yang pekat.Di sana, di tengah gulungan ombak laut barat yang menghempas tanpa ampun, permukaan air mendadak berguncang hebat. Pusaran air raksasa terbentuk secara tak wajar, menyedot buih-buih putih ke dalam dasar samudera yang paling gelap. Hawa dingin berganti menjadi tekanan mistis yang teramat berat, seolah-olah atmosfer di tebing karang itu mendadak dihimpit oleh beban ratusan ton air laut. "Penguasa Laut Barat..." gumam Jaka parau. Kandita bergeming di atas buaian ombak, kain gaun samudranya melambai-lambai ditiup angin badai yang kian kencang. "Dialah penuntut janji yang sebenarnya, Jaka. Ki Jagad hanyalah anjing suruhan yang ditumpangi oleh ambisinya sendiri. Selama sosok di tengah laut itu belum mendapatkan apa yang ia inginkan, tanah pesisir ini tidak akan pernah mengenyam kedamaian.""Lalu... apa yang
"Ha-hantuuu!" jerit Pak Herman histeris, tubuhnya gemetar hebat hingga lututnya terantuk batu karang.Di hadapannya, sosok Kandita melayang samar dengan gaun kain samudra yang menyapu angin malam. "Kejahatanmu pada wanita-wanita itu sudah cukup, Herman. Kau tidak akan bisa lari dari dosa-dosamu malam ini," desis Kandita dingin, mata indahnya menatap tajam hingga membuat Pak Herman bungkam ketakutan.Sementara itu, Ki Jagad yang masih merangkak di atas karang mencoba memanfaatkan kebingungan tersebut. Dengan sisa tenaga dan niat licik yang mendarah daging, jemari tuanya yang gemetar berhasil meraba ujung tongkat kayunya yang tersangkut di celah karang terendam.Set!"Pergi ke neraka, hantu sialan!" raung Ki Jagad seraya memutar tubuhnya cepat.Sambil berbaring, ia menghentakkan tongkatnya ke udara, menembakkan sisa taburan racun bubuk hitam yang tersimpan di ujung tongkat tepat ke arah wajah Jaka. Bubuk racun pekat itu melesat cepat diterpa angin malam, berniat membutakan mata Jaka da
Belum sempat Ki Jagad mencerna ucapan Kandita yang bergaung mistis, kepulan uap kehitaman pekat yang membara mendadak menyembur kencang dari rongga mulut dan hidung Jaka!Uhuk!Sisa-sisa racun yang sempat membekukan jaringan paru-paru dan melumpuhkan saraf motoriknya terlempar keluar seluruhnya, menguap menjadi asap tipis yang sirna dihantam angin laut. Pada detik yang sama, kedua mata Jaka terbuka lebar. Manik matanya tidak lagi redup atau dibayangi kelelahan.Srrftt!Tiga garis tanda pusaka di raga Jaka mendadak memancar terang. Garis yang awalnya hitam pekat, tiba-tiba menyala putih terang."A-apa?!" pekik Ki Jagad dengan suara bergetar hebat.Sebelum dukun tua itu sempat mengangkat tongkatnya untuk melancarkan serangan susulan, sebuah tangan kekar melesat kilat dari bawah.GREB!Jemari tangan kanan Jaka mencengkeram erat pergelangan kaki kiri Ki Jagad dengan cengkeraman yang luar biasa kuat—bagaikan apitan ragum baja yang sanggup meremukkan batu."Argh!" Ki Jagad menjerit kaget.D
Dewi Merpati menggeleng pelan, senyuman hangat tak pernah lepas dari wajah anggunnya. "Tentu saja belum, Jaka. Kau baru saja memulainya. Kau harus tetap hidup, tidak boleh menyerah pada kegelapan ini. Banyak jiwa yang sedang menggantungkan harapannya padamu... banyak yang sedang menunggu kepulanganmu." Deg! Seketika itu juga, ingatan Jaka langsung berputar cepat bagaikan kilatan cahaya di dalam benaknya. Rasa putus asa yang sempat menyergap dan melumpuhkan sukmanya perlahan-lahan luntur, digantikan oleh bayangan wajah-wajah orang yang dikasihinya. Ia melihat bayangan wajah Arum yang tersenyum manis menyambutnya, wajah Sari yang kini tengah mengandung dan tidak lama lagi akan melahirkan buah hatinya, wajah Sekar yang begitu lembut saat mengusap perutnya yang kian membesar, serta wajah Isara yang penuh aura keratuan namun memancarkan kepercayaan mendalam padanya. Bayangan wajah wanita-wanita itu seketika membuat semangat Jaka yang sempat padam kembali berkobar dahsyat! Rasa putus
"Sialan! Kau berani melawanku?!" bentak Ki Jagad dengan suara menggelegar, jemari tuanya yang keriput mengibas kasar jubah hitamnya yang basah kuyup terkena percikan air laut. Sementara di sekeliling mereka, gulungan ombak malam makin tampak mengganas, menghantam dinding tebing karang dengan suara bergemuruh bagaikan deruan naga hitam yang murka. Di sela-sela pecahan buih dan pusaran ombak yang menjulang tinggi, muncul siluet sosok seorang gadis. Tubuhnya melayang amat anggun, seolah menaiki tunggangan ombak laut barat, hingga akhirnya mendarat tanpa suara di atas permukaan karang yang licin—tepat di sebelah tubuh Jaka yang masih terkulai pasrah tak sadarkan diri. Gadis itu adalah Kandita, entitas asing yang sempat ditemui Jaka di tepi karang pesisir barat beberapa waktu lalu. "Jagad! Hentikan semua ini!" kata Kandita pelan. Suaranya mengalun lirih, namun memiliki daya gema ghaib yang sanggup menembus tajam deru angin malam yang bising. "Kau telah terpedaya... kau hanya dimanfaatka
Sisa tawa Ki Jagad yang melengking lambat laun memudar, tergantikan oleh suara keheningan malam yang sunyi dan berbau maut.Asap pekat keunguan yang semula memenuhi ruangan berangsur-angsur menipis, tersapu oleh hembusan angin laut yang menerobos masuk lewat dinding-dinding bata yang retak. Di atas lantai semen yang dingin dan kotor, tubuh Jaka tergeletak tak berdaya di dalam kubangan darahnya sendiri. Kelopak matanya tertutup rapat, napasnya terasa amat tipis hingga dadanya hampir tak kelihatan naik-turun.Ki Jagad menyunggingkan senyum kemenangan yang amat puas. Ia perlahan mengangkat telapak kakinya dari punggung Jaka, lalu melangkah memutari tubuh pemuda yang telah kehilangan kesadarannya itu."Sempurna..." bisik Ki Jagad dengan suara parau yang dingin. "Sangat sempurna."Lelaki tua itu berlutut di samping tubuh Jaka. Tangan tuanya yang keriput dan berkulit kasar terulur, jemarinya yang panjang mengusap darah kental di leher Jaka lalu mengoleskannya ke telapak tangannya sendiri. S
Setelah makan siang, Jaka duduk di depan rumah sambil menghisap sebatang rokok. Pikirannya masih melayang memikirkan beberapa kejadian aneh yang dialaminya hari ini. Dari mulai sikap warga yang mulai lebih baik kepadanya sampai perubahan fisiknya yang membuat Jaka sendiri heran. Jaka meraba otot l
Setelah Jaka selesai mengumpulkan semua rongsokan itu, ia langsung berpamitan kepada Bu Lilis yang masih berdiri di ambang pintu belakang menatap ke arahnya. “Udah?” tanya Bu Lilis dengan nada yang sengaja dibuat ketus, padahal pipinya masih merona akibat insiden benda karet tadi. “U-udah, Bu,” s
Jaka termenung setelah membaca surat tersebut, matanya berkaca-kaca. Ia mengambil gelang peninggalan ayahnya, membersihkannya dengan telaten hingga kusamnya sedikit menghilang, namun karat masih terlihat di beberapa sisi. Sambil menghela napas pendek, Jaka memakainya. Ternyata cukup pas di tangan.
“Ahh! Shh! Pelan-pelan, Pak.” Desahan itu terdengar samar, nyaris tertelan sunyi sore, namun cukup jelas untuk membuat langkah Jaka terhenti. Ia yang tengah mengais barang-barang bekas di gudang plastik terbengkalai di sudut desa mendadak membeku. Jantungnya berdegup lebih cepat, antara terkejut d







