Namun, belum sempat sang Mayor mengulangi kata-katanya, Andini sudah lebih dulu datang dengan nampan berisi teh hangat di tangannya. “Ayo diminum dulu, Mbak,” tawar perempuan berambut ikal tersebut. “Wah, makasih banyak, Mbak. Maaf udah ngerepotin.” Anya langsung duduk. “Nggak kok, Mbak. Malahan aku seneng, akhirnya aku bisa punya kakak ipar juga.” Andini tersenyum ramah. Di tengah-tengah percakapan mereka, tiba-tiba saja ponsel Bintang berdering. Ada panggilan yang masuk. “Din, temani Anya sebentar ya, Mas mau angkat telepon dulu,” pintanya. “Ok, Mas.” Bintang segera berlalu ke luar rumah. Sedang Andini dan Anya memilih untuk melanjutkan ngobrol mereka sembari menikmati beberapa potong kue bolu hasil olahan tangan Andini sendiri. “Kalau aku lihat, Mbak ini sepertinya masih sangat muda.” Andini memulai percakapan dengan Anya. “Heh, iya Mbak. Aku masih dua puluh satu tahun kurang.” Anya tertawa pelan. “Ha? Serius? Tanya Andini tak percaya. “Pantes aku lihat, seper
Read more