Share

Bab 21

Penulis: LV Edelweiss
last update Tanggal publikasi: 2026-03-17 21:46:18

Urusan di KUA sudah selesai. Sekarang waktunya untuk Anya bertemu dengan Rahayu, ibunya Bintang. Sebab, meski Bintang sudah mengatakan pada Rahayu jika ia tetap akan menikah ada atau tanpa Bulan, namun ibunya belum mengenal Anya sama sekali. Biar bagaimanapun, ibunya harus melihat Anya sebelum mereka menikah.

“Apa keluarga Om Bintang mau nerima aku ya?” tiba-tiba saja Anya bertanya saat mereka masih dalam perjalanan menuju ke kediaman orang tua Bintang.

“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”

“Yah
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 33

    Bagaikan punggung yang merindukan bulan. Peribahasa ini sepertinya cocok untuk Anya yang berharap jika Bintang akan menyentuhnya malam ini. Namun ternyata, harapan itu hanya berakhir pupus begitu saja. Pasalnya, bukan tergiur melihat keindahan raga Anya, laki-laki dengan perawakan tinggi dan gagah itu justru ketakutan saat melihat istrinya sendiri. Ya, Bintang takut melihat Anya. Bukan karena takut dengan sifat agresif perempuan itu, tapi lebih kepada takut ... takut Anya hamil. Loh, kok bisa? Bisa! Jika biasanya pasangan pengantin baru menginginkan malam pertama agar cepat punya anak, tapi tidak dengan tentara satu ini. Ia trauma melihat perempuan hamil. Terlebih jika perempuan itu adalah istrinya sendiri. Sebab sepuluh tahun yang lalu, ia pernah ditinggalkan oleh wanita yang sangat dicintainya, karena melahirkan. “Bapak menderita PTSD, yaitu Post-Traumatic Stress Disorder atau bisa juga disebut dengan Gangguan Stres Pascatraum. Ini adalah gangguan mental yang terjadi ketika s

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 32

    “Heuh? Na–naik?” tanya Bintang gelagapan.“Iya, soalnya aku udah gerah banget, pengen mandi.” Anya mengipas-ngipasi wajah dengan tangannya. “Oh, ya sudah.”Mereka pun kembali ke dalam hotel dan langsung masuk ke dalam lift. Menuju ke lantai lima tempat di mana kamar mereka berada.Sebenarnya menginap di hotel bukanlah idenya Bintang. Namun karena ia sudah menyewa ballroom untuk tempat acara resepsi pernikahan, jadi pihak hotel memberikannya paket menginap selama tiga hari di kamar khusus pengantin baru. Sayang kan, jika fasilitas ini tidak digunakan? Kapan lagi merasakan tidur di kamar jenis president suite di hotel mewah seperti ini. “Om mau mandi duluan, atau aku yang mandi duluan? Atau kita mandi bareng?” tanya Anya saat mereka sudah berada di dalam kamar hotel. Bintang spontan menoleh ke arah Anya. “Maksud kamu?” tanyanya. “Maksud aku, Om mau mandi duluan nggak?”“Ka—kamu saja yang duluan saja,” Bintang sedikit gugup.“Yakin? Nggak mau opsi yang ke tiga?” goda Anya lagi. Bint

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 31

    “Anya ... selamat ya? Aku doain rumah tangga kamu sakinah, mawaddah, warahmah. Langgeng terus sampai maut memisahkan. Cepat di kasih momongan.” Doa Aurel untuk sahabatnya itu.“Amin ya Allah. Thank you, ya Rel? Kamu memang sahabatku yang paling baik. Aku doain kamu cepet nyusul,” bisik Anya di telinga Aurel. “Ih, nggak nggak nggak. Aku nggak mau.” Aurel menolak cepat doa temannya itu.Anya pun tertawa. Mereka kemudian berfoto bersama. Mengabadikan setiap momen dengan kamera dan ponsel masing-masing. Semua anggota keluarga naik ke atas panggung, tak ada yang ketinggalan. Terkhusus dua orang ibu yang telah melahirkan putra dan putri yang luar biasa, Anne dan Rahayu.Anne dan Rahayu baru berkenalan di hari pernikahan anak-anak mereka. Mereka mengobrol banyak dan langsung akrab satu sama lain. Bagaikan dua orang yang sudah lama saling mengenal dan berteman. Benar-benar tampak kompak sekali.“Selamat datang kami ucapkan kepada para tamu undangan di acara resepsi pernikahan Bintang Dirga

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 30

    Bintang terperanjat dan seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia terus diam, menunggu Anya sampai ke meja akad. Tak berselang lama, perempuan itu sudah duduk di sampingnya. Bintang berusaha keras untuk tidak menoleh kepada Anya. Namun, rasa penasarannya terhadap penampilan calon istrinya itu mendorongnya untuk melihat ke arah samping. Dan tak bisa Bintang menafikan, Anya benar-benar terlihat cantik di matanya. Anya melepas senyum tipis kepada Bintang yang nyaris tak berkedip dalam melihatnya. Jelas saja, sebab selama ini, Sang Mayor tak pernah melihat dirinya berdandan. Jadi saat ia berpenampilan berbeda, laki-laki dewasa itu menjadi sangat terkejut. “Apa bisa kita mulai ijab kabulnya?” tanya penghulu kepada Bintang dan para saksi nikah. “Bi–bisa, Pak,” jawab Bintang seraya mengembalikan pandangnya ke arah depan. “Baik. Sebelum ijab kabul dilakukan, saya akan bacakan terlebih dahulu beberapa hal penting dalam pernikahan.” Penghulu memulai prosesi ijab kab

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 29

    Pagi menjelang. Suara azan subuh sayup-sayup mulai terdengar. Bersaing dengan suara alarm Anya yang memecah keheningan ruang kamar kos berukuran empat kali empat meter itu. Anya mengerjapkan mata sesaat. Lalu meraih ponselnya yang ada di dekat bantal dan melihat kepada angka jam yang tertera di layarnya. Sudah pukul lima pagi. Ia lalu bangkit dan segera berjalan ke arah kamar mandi kos sebelum penghuni kamar lainnya bangun. Kalau sampai antri, maka dapat dipastikan Anya akan terlambat sampai ke hotel. Beruntung, baru ada Anya dan salah seorang penghuni kamar kos lainnya. Jadi Anya bisa langsung masuk dan mandi dengan segera. Selang lima belas menit, ia pun sudah selesai. Anya kembali ke kamarnya dan langsung membangunkan Anne. “Bun ... Bunda .... Sudah subuh, Bun.” “Eum ....” Anne membuka mata perlahan dan langsung melihat Anya dengan dahi yang bertaut. “Sudah adzan ya?” tanyanya. “Udah, Bun. Bunda langsung mandi ya? Sebelum yang lain bangun.” Anne langsung bangkit dan mengambil

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 28

    Bintang duduk di teras depan rumahnya dengan sesekali melihat kepada layar ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat, namun ia masih belum bisa memejamkan mata. Semua orang tampak sudah masuk kamar masing-masing. Sesekali mulutnya bergerak mengulang kalimat ijab qabul yang besok akan diucapkannya. Dan karena ada pergantian nama mempelai wanita, maka Bintang harus mengubah hapalannya—mengingat penuh nama Anya dan melupakan nama Bulan. Jangan sampai salah. “Belum tidur, Bin?” Rahayu datang dan mengalihkan atensi putranya. “Belum Ma.” Bintang segera meletakan ponselnya di atas meja teras. Rahayu mendekat dan duduk di dekat Bintang. “Bagaimana? Kamu sudah hapal kan?” tanyanya perempuan berkerudung hitam itu. “Alhamdulillah, sudah Ma.” Rahayu manggut-manggut. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah depan jalan. Tampak suasana di jalanan sudah mulai sepi. Sebab mereka tinggal di komplek perumahan pensiunan TNI, jadi tidak begitu ramai kendaraan yang lalu lalang. “Ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status