“Sekarang aku mau tanya, bagaimana caranya kita membayar tagihan rumah sakit nanti?”Pertanyaanku menggantung di udara, berat, menekan, dan menuntut jawaban yang tak bisa lagi ditunda.Mas Angga tidak langsung menjawab.Dia hanya diam. Terlalu lama.Dan dari diamnya itu… aku sudah tahu.“Aku lagi usaha cari jalan, May,” ucapnya akhirnya pelan, nyaris seperti bisikan yang bahkan tak terdengar meyakinkan.Aku tertawa hambar.Bukan karena lucu.Tapi karena muak.“Cari jalan?” ulangku lirih, namun tajam. “Dari kapan kamu mulai benar-benar cari jalan, Mas? Karena yang aku lihat selama ini… kamu justru bikin jalan buntu buat kita.”Wajahnya menegang.“Aku udah bilang, restoran lagi ada masalah—”“Aku nggak peduli soal restoran kamu!” potongku, kali ini tak mampu lagi menahan emosi. “Yang aku peduliin itu Dita! Anak kita! Dia butuh pengobatan, Mas, bukan alasan!”Mas Angga terlihat terpukul. Tapi lagi-lagi… itu tidak cukup.“Aku…” Dia mengusap wajahnya kasar. “Aku sebenarnya lagi kepepet, Ma
Read more