Inicio / Romansa / PEREMPUAN BERKALANG NODA / 34. Tak Ingin Lagi Bertahan

Compartir

34. Tak Ingin Lagi Bertahan

last update Fecha de publicación: 2026-04-20 11:35:58

“Jelas kamu sedang membayangkan pria itu!”

Suara Mas Angga terdengar tajam, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimutiku.

Aku menoleh perlahan.

Dia berdiri di ambang pintu kamar, tatapannya jatuh tepat ke arah gaun yang masih kupeluk. Wajahnya keras, rahangnya mengatup, dan matanya… penuh sesuatu yang sudah lama tak kulihat—cemburu.

Ironis.

“Kamu ngapain di sini?” tanyaku datar, menghapus air mata yang sempat jatuh tanpa izin.

“Aku tanya dulu—kamu lagi ngapain?” balasnya, melangkah masuk ta
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
bener banget apa yg dikatakan Maya
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    130. Daftar Ulang

    Aku memeriksa kembali semua berkas yang semalam sudah aku siapkan. Berkas yang susah payah kumpulkan bila mengingat segala carut marut yang terjadi di hidupku sebelumnya hingga berkas penting itu tercecer di beberapa tempat dan untungnya segala kendala berhasil teratasi dan lagi-lagi berkat bantuan Andien.Andien bahkan dengan sigap mendatangi rumah Fajar hanya untuk mengambil beberapa berkasku yang tertinggal di sana, sesuatu yang jelas tak bisa aku lakukan. Karena aku benar-benar tak mau mengusik hidup Fajar yang sudah membuka lembaran baru bersama sosok wanita pilihan ibunya.Sejenak aku berdiri di depan cermin dengan kemeja paling sederhana yang kupunya kupadu dengan sehelai hijab warna krem.Setelah memastikan penampilanku sempurna aku segera ke luar dari kamar sambil mencangklong tas ransel yang berisi semua berkas yang diperlukan.Namun sebelum aku beranjak ke luar dari rumah mendadak terdengar suara bariton yang mengagetkan."Sayang, kamu sudah siap?"Jelas itu Hans. Siapa lag

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    129. Bucin

    "Ada tamu rupanya."Suara Hans membuatku seketika salah tingkah.Jelas aku sangat kaget dengan kedatangannya yang tak terduga ini meski sebelumnya dia juga sering muncul di rumah ini tanpa merasa perlu untuk mengabariku.Aku bangkit dari sofa, sementara Andien masih memandangi pria yang memakai stelan rapi itu dengan tatapan penuh tanda tanya."Iya, Hans. Ini Andien, sahabatku.""Oh jadi dia Andien yang sering kamu ceritakan itu?"Hans tersenyum tipis.Lalu, tanpa merasa ada yang aneh, pria itu berjalan mendekat dan berdiri tepat di sampingku.Tangannya bahkan dengan santai mendarat di pundakku.Aku langsung menegang."Hans..."Aku menatapnya dengan sorot mata memperingatkan.Namun bukannya mengerti, dia malah tersenyum."Kenapa, Sayang?"Aku hampir tersedak mendengar panggilan itu.Aku melirik Andien.Sahabatku sedang menatap kami berdua dengan mata membulat."Sayang?"Aku ingin sekali menginjak kaki Hans.Tapi tentu saja tidak mungkin kulakukan di depan Andien."Eh... maksudnya..."

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    128. Kunjungan Andien

    "Penawaran apa Hans?"Aku masih memandangnya dengan penuh rasa penasaran.Hans tidak langsung menjawab. Pria itu justru kembali menyendok bubur ayamnya dengan santai, seolah sengaja membiarkanku menunggu.Aku mengernyit."Kalau cuma mau bikin aku penasaran, nggak usah bicara."Hans terkekeh."Aku serius.""Lalu?""Bagaimana kalau kamu kuliah lagi?"Tanganku yang semula hendak merapikan beberapa daun bunga di hadapan kami mendadak berhenti.Aku menatap Hans seolah baru saja salah mendengar."Kuliah?"Hans mengangguk."Dulu kamu belum menyelesaikan kuliahmu, kan?"Aku terdiam.Pertanyaan sederhana itu tiba-tiba membawa ingatanku kembali pada masa lalu.Dulu aku memang pernah kuliah tapi semua harus berhenti di tengah jalan karena pernikahan dan kehamilanku yang saat itu tak mudah."Apa nggak mau menjadi sarjana sejarah?"Hans terdengar sangat ringan saat bertanya."Saat di Kairo lalu minat kamu kulihat begitu besar pada sejarah. Sayang sekali kalau kamu tak melanjutkan kuliahmu."Hans k

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    127. Sebuah Penawaran

    "So will you marry me May?" Kali ini Hans terlihat begitu serius. Aku menjadi kehilangan minat untuk melanjutkan kegiatanku. Aku berhenti sejenak untuk memusatkan perhatian ke arahnya. "Jawabannya masih sama seperti sebelumnya Hans, aku masih belum bisa membuka hati." Hans menarik nafas dalam. "Jadi itu artinya kamu belum bisa memaafkan aku." Hans menjatuhkan kedua pundaknya. Gesturnya terlihat luruh. "Hans ...," ucapku lirih. Hati ini menjadi berdenyut gelisah kala melihatnya seperti orang yang putus asa. Kala aku memandangnya lekat pada sosoknya yang sedang berjongkok di dekatku, hanya sekian detik senyuman Hans kemudian malah terunggah. Aku mengernyit bingung mendapati perubahan sikapnya. "Kurasa usahaku untuk hari ini cukup," cetus Hans ringan seraya berdiri dari jongkoknya. Mataku mengikuti gerakannya hingga kepalaku agak terdongak. Aku menjadi ikut bangkit. "Usaha apa?" "Usaha untuk menaklukkan hatimu." Sontak aku mendengkus kesal. "Kamu semakin

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    126. "Will You Marry Me, Maya?"

    "Maya, tolong terimalah lamaranku."Aku terdiam.Tatapan Hans masih tertuju kepadaku. Ada kesungguhan yang begitu nyata di sana, membuat dadaku kembali terasa sesak.Namun kali ini bukan karena ketakutan.Melainkan karena aku tidak tahu harus memberikan jawaban apa.Di satu sisi, aku ingin percaya bahwa perasaan Hans benar-benar tulus. Aku ingin percaya bahwa lelaki yang berdiri di hadapanku sekarang bukan lagi orang yang sama seperti dulu.Namun di sisi lain, masa lalu terus menarikku kembali.Aku menundukkan kepala."Hans...""Ya?""Maaf aku belum bisa."Senyum di wajahnya perlahan menghilang."Aku tahu kamu pasti menjawab seperti ini."Dia mengedikkan kedua pundaknya."Dan aku tahu apa alasannya."Aku langsung mengerutkan kening memandang ke arahnya yang kembali fokus menyetir."Alasannya pasti karena dokter itu, kan?"Hans menjawab dengan sekenanya.Aku bisa melihat rahangnya mengeras, seolah berusaha menahan sesuatu yang terasa berat di dalam hatinya."Tapi kamu nggak usah khawat

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    125. Lamaran Yang Ke Sekian Kalinya

    “Sejak kapan Maya menjadi calon istrimu?”Pertanyaan Salman membuat tubuhku seketika menegang.Aku menatap Hans.Pria itu masih berdiri beberapa meter di hadapanku dengan sorot mata yang sulit kubaca. Namun satu hal yang bisa kurasakan dengan jelas adalah kemarahannya.Kemarahannya bukan hanya karena aku diculik.Ada sesuatu yang jauh lebih besar dari itu.“Sejak kapan itu bukan urusanmu?” balas Hans dingin.Salman terkekeh.“Jangan mengalihkan pembicaraan, Hans.”“Aku tidak datang untuk berbicara denganmu.”Tatapan Hans beralih kepadaku.“Maya, kemari.”Aku refleks ingin melangkah.Namun Salman bergerak lebih cepat.Dalam sekejap, lengannya meraih tubuhku lalu menarikku ke dalam pelukannya.“Tidak.”Aku membeku.“Lepaskan aku!”Aku berusaha melepaskan diri, tetapi pelukannya justru semakin erat.“Salman!”Hans langsung melangkah maju.“Lepaskan Maya.”Nada suaranya terdengar begitu tenang.Justru ketenangan itulah yang membuatku semakin takut.“Aku tidak mau.”Salman menjawab tanpa s

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    63. Bimbang

    Aku melenggang dengan langkah ringan saat keluar dari ruang pemeriksaan.Berkat dukungan Fajar yang selalu mendampingiku aku mampu memberikan keterangan dengan lancar.Fajar selalu meyakinkan aku jika Benny tidak akan bisa lepas dari jeratan hukum begitu saja karena kesalahannya terpampang nyata le

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    38. Dukungan Andien

    Saat aku menoleh ke arah pintu kulihat Andien, sahabatku sejak lama telah berdiri di ambang pintu.Sorot matanya lugas, segera menerbitkan tanya di hati."Wa'alaikumsalam, masuk Ndien," balasku seraya menyambut kedatangannya dengan seuntai senyuman. "Maaf, aku baru datang sekarang," ucap Andien se

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    6. Memperpanjang Waktu

    "Cukup kamu tahu kalau aku dan papamu dulu pernah saling kenal."Jawaban tegas Hans tetap tak bisa membungkamku. Rasa penasaranku tetap saja membuncah."Jika kamu mengenal papaku, kenapa kamu tega memperlakukan aku seperti ini? Kamu sudah membuatku seperti seorang pelacur."Aku mengunggah keberania

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    5. Rahasia Hans

    Kupandangi foto itu dengan hati memendam gundah sekaligus rasa penasaran.Gambar di layar itu memampang terlalu lugas sebuah keakraban. Pelukan erat mereka semakin menegaskan tentang interaksi yang terunggah hangat. Ditambah dengan senyuman lebar keduanya kian memancing rasa ingin tahuku, sebenarny

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status