แชร์

37. Dilema

ผู้เขียน: Mastuti Rheny
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-23 20:51:08

Waktu berjalan terlalu hambar. Setengah jiwa ini terasa telah tergadai. Nyatanya takdir seakan tak memberiku banyak pilihan.

Aku menatap lembaran uang di tanganku tanpa ekspresi.

Lipatannya masih rapi. Aromanya bahkan masih terasa baru. Seharusnya aku merasa lega, setidaknya untuk hari ini, aku bisa membayar sebagian biaya pengobatan Dita… dan mungkin menutup tunggakan kontrakan yang sudah dua bulan tertunda.

Tapi yang kurasakan justru kosong.

Hampa.

Seolah ada bagian dari diriku yang ikut hila
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
siapa yg datang mengucapkan salam?
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    124. Calon Istri

    Maya POVLangkahku terasa jauh lebih ringan pagi itu.Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, aku berjalan keluar dari kawasan perumahan tanpa ditemani siapa pun. Udara pagi yang sejuk menyapa wajahku, membuatku mengembuskan napas panjang.Rasanya menyenangkan.Bebas.Aku terus berjalan hingga tiba di jalan raya, lalu mengangkat tangan memanggil sebuah taksi."Ke Jalan Melati, Pak.""Baik, Bu."Mobil melaju membelah jalanan kota.Sepanjang perjalanan, pikiranku melayang ke kontrakan kecil yang pernah kutinggali.Masih ada beberapa pakaian.Album foto Dita.Beberapa buku.Dan sebuah kotak kecil berisi kenangan yang belum sempat kubawa.Aku hanya ingin mengambil semuanya, lalu kembali sebelum Hans mengetahui aku keluar rumah.Mungkin...Dia bahkan tidak akan sadar.Sekitar tiga puluh menit kemudian...Taksi berhenti tepat di depan gang menuju kontrakanku."Terima kasih, Pak."Aku membayar ongkos lalu turun.Baru beberapa langkah aku berjalan...Sebuah mobil hitam berhenti mendadak tepa

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    123. Sangkar Emas

    Maya POVAku masih menatap Hans dengan bingung."Memangnya apa yang lebih seru?"Sudut bibirnya terangkat tipis."Kamu akan tahu sendiri."Tanpa menjelaskan apa pun, Hans kembali berjalan menuju mobil. Aku menghela napas pelan sebelum akhirnya mengikuti langkahnya.Sekitar tiga puluh menit kemudian mobil berhenti di sebuah taman bermain yang cukup ramai.Aku menoleh heran."Kita ke sini?"Hans mengangguk santai."Iya.""Aku bukan anak kecil.""Memangnya yang boleh main di sini cuma anak kecil?"Aku terdiam.Hans sudah lebih dulu berjalan menuju loket pembelian tiket.Beberapa menit kemudian ia kembali sambil menyerahkan satu gelang masuk kepadaku."Pakai."Aku menerima gelang itu dengan ragu."Serius?""Kalau nggak serius, buat apa aku bayar mahal?"Aku hanya mendengus pelan.Entah sejak kapan pria itu selalu punya cara membuatku kehabisan kata-kata.Begitu memasuki area taman bermain, suara tawa para pengunjung memenuhi udara.Anak-anak berlarian.Musik ceria terdengar dari berbagai

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    122. Lebih Seru

    Maya POV"Maya."Suara itu membuatku spontan menoleh.Jantungku langsung berdebar keras.Fajar berdiri beberapa meter di depanku dengan balutan jas pengantin berwarna putih gading. Senyum hangat masih menghiasi wajahnya, tetapi sorot matanya menyimpan haru yang begitu dalam.Untuk sesaat, dunia di sekelilingku seperti berhenti.Aku sudah mempersiapkan diri selama seminggu penuh untuk menghadapi hari ini.Namun semua ketegaran yang kubangun seolah runtuh hanya karena melihatnya.Hari ini...Fajar benar-benar menjadi mempelai pria.Langkahnya mendekat."Maya..."Nada suaranya tetap sama seperti dulu. Hangat. Menenangkan."Aku senang kamu datang."Aku memaksakan senyum meski terasa begitu berat."Selamat, Jar."Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari bibirku.Fajar tersenyum tipis."Terima kasih."Tatapannya sempat bergetar."Aku tahu datang ke sini pasti nggak mudah buat kamu."Aku hanya mengangguk pelan.Tak ada gunanya lagi mengungkapkan apa yang kurasakan.Semuanya sudah terlambat.

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    121. Hari Pernikahan

    Maya POVAku masih berdiri membelakanginya.Ruangan kembali sunyi.Hans tak lagi memaksaku bicara. Ia hanya berdiri beberapa langkah di belakangku, seolah menungguku membuka hati dengan kemauanku sendiri.Entah kenapa, justru sikap diamnya membuat dadaku terasa semakin sesak.Aku menarik napas panjang."Ada yang mau kuceritakan."Suara itu akhirnya keluar, meski terdengar begitu lirih.Hans langsung mengangkat wajah. Tatapannya segera memindaiku.Aku menelan ludah."Tadi... Fajar menelepon."Sorot mata Hans berubah."Jadi dia yang sudah membuat kamu menangis."Hans melemparkan dugaannya dengan nada yang terdengar datar.Aku membisu sesaat sambil membalas tatapannya."Dia akan menikah minggu depan."Aku kembali merasakan sesak yang sama seperti beberapa jam lalu."Dia memintaku datang."Hans mencebik tipis."Dia sudah membuat pilihan yang tepat."Aku terperangah menjadi tak bisa menyembunyikan kekesalanku. Kedua mataku sedikit membeliak padanya.Hans malah mengedikkan kedua bahu tipis.

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    120. Perhatian Hans

    PBN 120Maya POVAku memejamkan mata, berusaha meredam isak yang kembali memenuhi dada.Suara Fajar terdengar pelan dari seberang sana.["May... boleh aku meminta satu hal padamu? Anggap saja ini permintaan terakhirku."]Jantungku kembali berdegup tak beraturan.Aku menggenggam ponsel semakin erat.["Katakan... apa permintaanmu, Jar?"]Hening beberapa saat.Seolah Fajar sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkannya.Lalu...["Datanglah ke pernikahanku."]Aku membeku.["Aku ingin... kamu mendampingiku sebelum akad dimulai."]Napas seolah berhenti."Apa?"Kalimat itu nyaris lolos dari bibirku.["Aku tahu permintaan ini egois."]["Tapi aku benar-benar ingin kamu dampingi demi meyakinkan diriku sendiri jika apa yang sudah aku pilih ini adalah sesuatu yang benar."]Aku membeku mendengar permintaan Fajar yang terasa sulit untuk dikabulkan.Saat ini aku bahkan menjadi kian sulit untuk menahan laju air mataku."Jar..."["Tolong..."]Suaranya mulai bergetar.["Aku ingin orang terakhir ya

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    119. Permintaan Terakhir Fajar

    Maya POV"Hans... lepaskan aku."Aku kembali berusaha menarik pergelangan tanganku, tetapi cengkeramannya justru semakin erat."Aku nggak akan membiarkan kamu pergi menemui Fajar."Nada suaranya terdengar tenang, tetapi ketegasan di dalamnya membuatku semakin marah."Kamu nggak berhak mengatur hidupku!""Aku memang belum berhak."Hans menatapku tanpa berkedip."Tapi aku hanya ingin menenangkan diriku saja."Aku langsung membeliak kesal."Maksud kamu?"Beberapa pasang mata mulai memperhatikan kami.Hans seolah tak peduli.Ia justru menarikku berdiri. Dia sama sekali tak menjelaskan kalimatnya tadi."Ayo pulang.""Pulang?"Aku mengernyit."Ke mana?""Ke rumah.""Aku punya rumah sendiri!""Bukan rumah itu."Hans berjalan sambil tetap menggenggam tanganku."Rumah yang kubelikan untukmu."Aku spontan menghentikan langkah."Aku nggak mau!""Kamu boleh marah.""Tapi hari ini kamu tetap ikut denganku."Aku benar-benar kehilangan kesabaran."Hans! Jangan paksa aku!"Namun semua protesku sama s

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    55. Terkukung Amarah

    Maya POV“Kamu…?!”Aku memegang dada yang berdebar kencang saat melihat Andien berdiri di belakangku sambil mendelik kesal.“Ya Allah Andien, aku kira siapa. Aku sampai mau pingsan,” desisku setengah kesal.Andien malah terkekeh melihat ekspresi kekagetanku.“Ngapain kamu berdiri di sini kayak mali

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    43. Penuh Simpati

    Ada rasa berat saat aku berusaha membuka mata. Semuanya terasa samar hanya remang-remang.Perlu beberapa lama aku beradaptasi sampai akhirnya aku menyadari keberadaanku.Langit-langit putih. Bau obat yang menyengat. Suara mesin yang berdetak pelan.Jelas sekarang aku sudah berada di rumah sakit.Ak

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    38. Dukungan Andien

    Saat aku menoleh ke arah pintu kulihat Andien, sahabatku sejak lama telah berdiri di ambang pintu.Sorot matanya lugas, segera menerbitkan tanya di hati."Wa'alaikumsalam, masuk Ndien," balasku seraya menyambut kedatangannya dengan seuntai senyuman. "Maaf, aku baru datang sekarang," ucap Andien se

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    6. Memperpanjang Waktu

    "Cukup kamu tahu kalau aku dan papamu dulu pernah saling kenal."Jawaban tegas Hans tetap tak bisa membungkamku. Rasa penasaranku tetap saja membuncah."Jika kamu mengenal papaku, kenapa kamu tega memperlakukan aku seperti ini? Kamu sudah membuatku seperti seorang pelacur."Aku mengunggah keberania

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status