로그인"Mas Fajar?" Panggilan itu segera membuatku menoleh. Segera kulihat wajah Bella di sana, adik dari temanku Rizal yang selama ini terkesan selalu ingin menarik perhatianku."Bella," sebutku gamang pada sosok yang selalu menampakkan senyum lebarnya ketika di hadapanku."Lagi belanja Mas?""Iya," jawabku singkat namun tanggapanku yang sekedarnya malah kian menyulut kegenitannya.Sampai akhirnya kulihat Maya mulai berjalan ke arahku sambil membawa sebotol merica bubuk untuk dimasukkan ke dalam troli belanja yang sejak tadi aku dorong.Kehadiran Maya sontak menerbitkan ekspresi kaget di wajah Bella.Gadis ekspresif itu langsung menyergap Maya dengan sorot mata tidak suka.Terlebih saat aku melemparkan senyuman lembut pada sosok anggun yang kini sudah berdiri di dekatku."Sudah? Habis ini cari apalagi?" tanyaku penuh perhatian."Beras, terus sayuran buat masak nanti malam," jawab Maya singkat."Dia siapa Mas?"Kehadiran Maya segera memancing tanya buat Bella."Dia teman lama aku," jawabku
POV Fajar["Bagaimana Jar, bisa kan kamu nanti makan siang di rumah?"]["Kamu mau dimasakin apa nanti?"]Nada bicara ibu sudah terdengar sangat antusias.Hati ini menjadi dilema. Rasanya aku akan sangat bersalah jika tak memenuhi keinginan ibu yang terasa sudah begitu merindukan aku, karena mengingat sudah 2 hari ini aku tak pulang.Jika kemarin malam aku berada di rumah sakit tapi tadi malam aku menemani Maya yang sedang demam.["Eh ... kebetulan banget Bu, aku udah janji sama teman, jadi aku nggak bisa makan siang di rumah nanti. Tapi Insya Allah nanti malam aku akan usahakan buat pulang biar bisa makan malam sama Ibu di rumah."]Dengan terpaksa aku kembali mengunggah kebohongan. Aku lebih memilih untuk memenuhi janjiku pada Maya meski hati kecilku merutuki kebohongan yang aku lontarkan.Aku menghembuskan napas pelan, lalu kembali mendekatkan ponsel ke telinga.[“Gimana kalau nanti siang aku pesankan makanan? Ngomong-ngomong Ibu mau makan apa?"] tawarku demi meredakan rasa bersalahk
POV Fajar Aku sempat mengira Maya akan meminta sesuatu yang sulit atau bahkan aneh. Tapi ketika jawabannya keluar dari bibirnya, justru sesuatu yang sederhana—terlalu sederhana untuk seseorang seperti dia. "Nasi Padang... di dekat sekolah kita dulu." Aku terdiam sesaat. Lalu tanpa sadar sudut bibirku terangkat. Tempat itu. Tempat penuh kenangan. Tempat di mana dulu kami sering berdebat soal lauk mana yang paling enak, di mana Maya selalu mencuri sambal di piringku dan berpura-pura tidak bersalah. "Masih inget tempatnya?" tanyaku pelan. Maya mengangguk, matanya berbinar. "Aku pengen ke sana lagi." "Ya udah," jawabku mantap. "Nanti siang aku ajak kamu ke sana." Entah kenapa, hanya dengan mengatakan itu saja sudah membuat dadaku terasa hangat. Seolah aku sedang memperbaiki sesuatu yang dulu pernah hancur. Sungguh aku selalu ingin mengembalikan senyumnya seperti dulu. Senyum indah yang selalu mampu memberikan semangat untukku. "Beneran? Apa kamu nggak sibuk, Jar?"
"Aku takut Jar, aku takut ...."Maya kian mengeratkan dekapannya. Kulitnya yang sehalus sutera mendistraksi tubuhku.Kain tipis yang membungkus tubuhnya hanya menambah sensasi menggetarkan untukku.Selama ini aku berusaha menjaga diri dan apa yang terjadi sekarang kuanggap sebagai godaan terhebat apalagi datang dari sosok yang selama ini selalu memenuhi isi pikiran nyaris menjadi obsesi yang sulit dilawan.Tubuhku seketika menegang. Namun ketika aku mendapati kedua mata Maya yang kembali terpejam disertai dengan badannya yang terlihat menggigil semua distraksi itu seketika menguap, berubah menjadi kecemasan yang pekat."May, aku akan ambilkan obat dulu, kamu demam."Dengan cepat aku mengambil tasku di ruang depan dan segera kukeluarkan satu tablet paracetamol.Kuraih segelas air putih yang tersedia di atas nakas. Setelah itu dengan hati-hati aku kembali merengkuh tubuh ringkihnya dan kuminta Maya untuk membuka matanya sebentar agar aku bisa meminumkan paracetamol itu.Maya meminum oba
"Jadi Benny yang sudah melakukan penyiksaan itu pada Maya?"Aku tersentak kaget saat mendengar penjelasan Andien yang pada akhirnya bisa mengorek keterangan dari Maya, yang sebelumnya masih saja tutup mulut enggan mengungkap sosok pria yang sudah melakukan penyiksaan padanya."Benny, teman kuliahnya Maya yang satu kampus dulu?"Aku memperjelas keterangan yang sudah aku dengar dari Andien.Segera aku teringat jika dulu Benny pernah mengejar Maya. Lelaki itu juga dulu yang selalu mengejekku karena dia tahu aku menjalin kedekatan dengan Maya. Lelaki yang dulu sering menyebutku sebagai orang miskin yang tak pantas untuk bisa bersanding dengan Maya."Iya, Maya yang sudah mengatakannya sendiri padaku," ucap Andien dengan sangat yakin."Kalau begitu aku akan segera membuat laporan ke kepolisian. Kedua pria brengsek itu harus mendekam di penjara."Tanpa sadar aku mengepalkan kedua tangan, menjadi terlalu geram bila mengingat apa yang sudah mereka lakukan terhadap Maya."Bagus, aku akan dukung
POV Fajar Wajah cantik yang sekian tahun hanya bisa aku rindukan itu, kini tampak luruh di hadapanku.Aku bisa merasakan dengan sangat lugas kehancurannya. Sebuah kehancuran yang hanya menerbitkan bara amarah di hatiku.Sudah terlalu lama aku berdamai dengan takdir perpisahan kami, dan hati ini kupaksa untuk merelakan sosok yang paling berarti di hidupku menjadi milik lelaki lain yang aku pikir akan bisa membahagiakannya.Tapi nyatanya apa yang kudapati saat ini sangat jauh berbeda.Rentetan kepahitan itu kini hanya menyisakan keraguan, sesuatu yang kini bahkan sedang aku saksikan pada kedua matanya yang dulu selalu tampak berbinar.Perlahan aku melangkah mendekatinya. Jarak kami hanya sejengkal, cukup untuk melihat jelas bagaimana matanya berusaha menyembunyikan luka yang belum benar-benar sembuh.“Sekarang kamu yang jadi orang kayanya, Jar.”Ucapan itu terdengar sendu menguarkan sebuah kerapuhan yang justru menyiksaku.Aku menggeleng pelan, lalu menghela napas panjang.“Semua penca







