Mag-log inLangit bumi tidak lagi milik manusia, tidak pula sepenuhnya milik Arka Adiwangsa. Di luar atmosfer yang terionisasi oleh cahaya Eden, ribuan cakram logam organik yang disebut sebagai The Architects—ras asli pemilik benih Primordial—mulai membakar lapisan eksosfer. Mereka datang bukan dengan meriam, melainkan dengan resonansi frekuensi yang sanggup membekukan atom. Di bawah laut, di dalam jantung Eden yang megah, alarm sonik bergetar melalui dinding-dinding kristal, menciptakan simfoni ngeri yang memekakkan telinga para Sovereigns.Arka Adiwangsa berdiri di pusat balkon komando, jubah kaisarnya kini telah berubah menjadi zirah cair berwarna ungu gelap yang terus bergerak mengikuti aliran energinya. Matanya yang nebula menatap ke atas, menembus triliunan ton air laut, mengunci sasarannya pada kapal induk asing yang besarnya menyamai sebuah kota kecil. Di sampingnya, Valerie berdiri dengan pedang titanium ganda yang kini dialiri api perak—hasil fusi an
Dunia di permukaan bumi kini bermandikan cahaya putih konstan yang memancar dari satelit-satelit energi Eden yang baru diluncurkan oleh Arka. Tidak ada lagi malam yang benar-benar gelap; yang ada hanyalah senja abadi yang tenang. Di kota-kota besar yang telah dibersihkan dari "hama" teknologi lama, seperti London, Paris, dan Jakarta, kapal-kapal pengangkut Adiwangsa yang berbentuk cakram kristal mendarat di alun-alun kota. Pasukan Reaper yang mengenakan zirah perak berdiri tegak, memegang pemindai genetik yang berpendar ungu. Ini adalah hari pertama "Skrining Besar". Ribuan orang tua berdiri dalam antrean panjang, memeluk anak-anak mereka dengan ketakutan yang mencekam. Mereka tidak punya pilihan. Titah sang Kaisar Ungu adalah hukum alam yang tidak bisa dibantah. Siapa pun yang mencoba menyembunyikan anak mereka akan merasakan denyut frekuensi yang sanggup menghentikan detak jantung dari jarak jauh. Di dalam pusat kendali Eden
Eden tidak lagi terasa seperti suaka bawah laut yang dingin; ia telah berubah menjadi jantung dari tatanan dunia baru yang berdenyut dengan energi murni. Di dalam aula spiral yang kini telah direkonstruksi menjadi istana kristal cair, Arka Adiwangsa duduk di atas singgasana yang tumbuh langsung dari pilar pusat Eden. Tubuhnya yang baru—hasil fusi jutaan energi jiwa—tampak sempurna tanpa cela, memancarkan aura ungu nebula yang menekan gravitasi di sekitarnya. Arka bukan lagi sekadar predator; ia adalah personifikasi dari kehendak bumi yang telah lama tertidur.Di sampingnya, Valerie berdiri dengan keanggunan yang mengintimidasi. Kulit porselennya yang kini kembali stabil setelah persalinan berdarah kemarin tampak bersinar di bawah cahaya ultraviolet. Ia mengenakan jubah sutra hitam transparan yang memperlihatkan tato sirkuit saraf di tubuhnya yang kini berpendar emas. Setiap kali Arka bergerak, Valerie bisa merasakan getaran energinya di dalam sarafn
Kapal induk The Empress berhenti tepat di atas koordinat vertikal Palung Mariana. Di bawah sana, kegelapan abadi samudra seolah-olah sedang bernapas, mengirimkan gelembung-gelembung energi ungu yang meledak di permukaan air. Valerie Adiwangsa berdiri di pusat dek evakuasi bawah tanah kapal, dikelilingi oleh tabung-tabung penyimpanan energi yang berisi "jiwa" dari Tokyo dan New York. Tubuh Valerie kini bukan lagi daging dan darah biasa; kulitnya putih cemerlang seperti porselen transparan, memperlihatkan jaringan saraf yang berpendar keunguan.Setiap detik, rasa sakit yang menghancurkan menghujam rahimnya. Janin Primordial di dalamnya tidak lagi sekadar menendang; makhluk itu sedang mencoba merobek jalan keluar menggunakan kuku-kuku energi dan frekuensi resonansi yang sanggup menghancurkan beton. Valerie mengerang, namun desahannya adalah campuran antara penderitaan murni dan kepuasan yang obsesif."Buka gerbang penyelaman," perintah Valerie, suaranya
Samudra Atlantik Utara yang biasanya ganas kini tampak seperti hamparan merkuri yang diam di bawah aurora ungu yang menari-nari dengan liar. Kapal induk The Empress membelah air dengan keanggunan pemangsa yang tak tertandingi, meninggalkan jejak buih bercahaya ultraviolet yang mematikan bagi organisme laut apa pun yang menyentuhnya. Di cakrawala, siluet Manhattan yang legendaris mulai terlihat—bukan sebagai mercusuar harapan peradaban Barat, melainkan sebagai tumpukan nisan beton yang menunggu untuk diratakan.Valerie Adiwangsa berdiri di balkon observasi tertinggi, membiarkan angin laut yang membeku mencambuk rambut peraknya. Ia tidak mengenakan jubah bulunya lagi; panas yang terpancar dari rahimnya telah mencapai titik di mana salju yang jatuh di sekitarnya menguap sebelum menyentuh kulitnya. Zirah polimer hitamnya kini terintegrasi secara saraf dengan kulitnya, berdenyut searah dengan detak jantung janin di dalamnya yang semakin menuntut. Pe
Teluk Tokyo tidak lagi mencerminkan gemerlap lampu neon yang pernah menjadi simbol kemajuan peradaban manusia. Di bawah langit yang terbelah oleh aurora ungu permanen, kota megapolitan itu kini tampak seperti bangkai beton raksasa yang membusuk. Tanpa listrik, tanpa hukum, jutaan jiwa terjebak dalam kegelapan, saling memangsa demi sisa-sisa makanan. Namun, kegelapan itu mendadak terusir oleh cahaya ultraviolet yang menyakitkan mata saat kapal induk The Empress—kapal komando baru Adiwangsa—muncul dari balik kabut laut, membelah air dengan mesin fusi hening yang menggetarkan dasar samudra.Valerie Adiwangsa berdiri di ujung dek observasi yang menjorok keluar. Angin laut yang dingin menerpa jubah bulu hitamnya, namun ia tidak merasa dingin. Tubuhnya justru memancarkan panas yang luar biasa. Zirah lateks yang melekat di tubuhnya terasa semakin sesak; perutnya yang membuncit secara tidak alami kini berdenyut dengan cahaya ungu yang tembus cahaya, memperlihatkan si







