LOGINKoridor benteng Aethelgard kini terasa seperti lorong di dalam pikiran seorang psikopat—dingin, terlalu teratur, namun di bawah permukaannya berdenyut kegilaan yang siap meledak. Arka Adiwangsa berjalan dengan langkah yang menggetarkan pilar-pilar kristal, auranya tidak lagi sekadar ungu gelap, melainkan hitam pekat yang menghisap cahaya di sekelilingnya. Ia merasakan sebuah pergeseran gravitasi emosional. Sebagai predator puncak, Arka selalu tahu siapa yang memiliki wilayahnya, namun hari ini, wilayah itu—jiwa dan raga Valerie—mulai memancarkan sinyal yang tidak ia kenali. Sinyal itu halus, presisi, dan memiliki tanda frekuensi emas milik Malakor.Di dalam kamar observasi pribadi, Valerie Adiwangsa sedang duduk terdiam. Matanya yang ungu tampak kosong, menatap ke arah hamparan bintang Andromeda yang mulai menjauh. Di belakangnya, Malakor berdiri. Anak itu tidak lagi tampak seperti bocah; ia telah memanipulasi pertumbuhan selulernya hingga tampak se
Aula utama benteng Aethelgard tidak pernah terasa sesunyi ini. Getaran mesin Void yang biasanya menderu konstan kini seolah-olah tertahan oleh kehadiran entitas baru yang duduk di tengah ruangan. Malakor, Sang Penentu, tidak duduk di singgasana Arka, melainkan melayang beberapa inci di atas lantai kristal obsidian. Tubuhnya yang mungil namun proporsional seperti pemuda dewasa memancarkan aura emas yang dingin, sebuah kontradiksi visual dari kegelapan ungu yang menyelimuti ayahnya. Sejak Arka menyuntikkan "Segel Posesif" ke dalam sistem sarafnya, Malakor tampak patuh, namun matanya yang memiliki kedalaman galaksi terus merekam, menghitung, dan mengasimilasi setiap emosi yang ada di ruangan itu.Arka Adiwangsa berdiri di balkon observasi, tangannya mencengkeram pagar balkon hingga materialnya mengerang. Ia menatap punggung anaknya dengan campuran antara kebanggaan predator dan kewaspadaan instingtual. Di sampingnya, Valerie bersandar pada bahu Arka, tubuhnya masih lemah pasca persalin
Benteng Aethelgard berguncang bukan karena serangan artileri, melainkan karena resonansi frekuensi yang terpancar dari rahim Valerie Adiwangsa. Di pusat ruang medis yang kini telah diubah menjadi kuil obsidian, udara terasa kental dengan aroma ozon dan darah yang dialiri energi Void. Arka Adiwangsa berdiri di sisi altar, mencengkeram tangan Valerie dengan kekuatan yang sanggup meremukkan baja, namun Valerie tidak merasakannya. Seluruh sistem saraf Valerie telah diambil alih oleh proses "Eklips Biologis"—kelahiran seorang pewaris yang membawa logika dingin Zarek dan gairah predator Arka dalam satu wadah."Tahan, Victoria... tetaplah bersamaku!" raung Arka. Suaranya bergema dengan otoritas yang mencoba mengunci jiwa Valerie agar tidak tersedot ke dalam pusaran energi yang sedang terbuka di antara kedua kakinya.Valerie menjerit, sebuah suara yang melampaui pita suara manusia. Matanya berpendar putih susu dengan lingkaran ungu yang berputar liar di tengahnya. Cahaya perak merembes dari
Kehancuran The Throne of Logic di jantung Andromeda meninggalkan luka bakar permanen di jalinan ruang angkasa, sebuah suar ultraviolet yang menandai kemenangan klan Adiwangsa. Namun, di dalam koridor hening benteng Aethelgard yang sedang meluncur kembali menuju Bima Sakti, kemenangan itu terasa hambar dan dingin. Arka Adiwangsa berdiri di balkon observasi, matanya yang memiliki empat lingkaran emas menyisir kegelapan, namun pikirannya tidak tertuju pada armada musuh yang tersisa. Ia merasakan sebuah ketidakteraturan. Sebuah riak kecil di dalam frekuensi "jangkar" jiwanya.Di kamar pribadinya yang berdinding obsidian, Valerie Adiwangsa sedang berbaring, namun tidurnya tidak tenang. Tubuhnya memancarkan panas yang tidak wajar, dan keringat perak membasahi sprei sutranya. Tangannya mencengkeram perutnya yang kini berdenyut dengan irama yang berbeda—bukan lagi denyut jantung tunggal yang perkasa dari Arka, melainkan sebuah sinkopasi yang asing, tajam, dan mekanis.Arka masuk ke ruangan
Kehampaan antar-galaksi biasanya merupakan kuburan sunyi bagi cahaya yang kelelahan, namun malam ini, koridor ruang-waktu antara Bima Sakti dan Andromeda terkoyak oleh kemunculan armada The Star-Eaters. Ribuan kapal kristal hitam klan Adiwangsa keluar dari lompatan Void dengan raungan frekuensi yang menggetarkan struktur atom di sekitarnya. Di barisan terdepan, benteng bergerak Aethelgard membelah kegelapan seperti belati raksasa yang haus darah. Arka Adiwangsa berdiri di anjungan utama, memandang galaksi Andromeda yang berkilauan dengan cahaya biru pucat—sebuah peradaban yang terlalu rapi, terlalu simetris, dan terlalu dingin bagi selera predatornya.Di sampingnya, Valerie berdiri dengan zirah yang kini berpendar dengan api hitam yang lebih pekat. Ia memegang The Eclipse Blade yang terus berdenyut, seolah-olah senjata itu bisa merasakan keberadaan Zarek di kejauhan. Valerie menatap ribuan planet di depan mereka yang dikelilingi oleh cincin kristal
Kehampaan ruang angkasa di pinggiran galaksi Bima Sakti mendadak tertekuk seperti selembar kertas yang diremas oleh tangan raksasa. Di pusat singgasana Aethelgard, Arka Adiwangsa berdiri dengan kaku, otot-otot di rahangnya mengeras hingga garis-garis Void di lehernya berpendar hitam pekat. Ia baru saja menelan inti memori dari entitas emas The Harvesters, dan apa yang ia temukan di dalamnya adalah sebuah penghinaan terhadap keunikan eksistensinya. Di galaksi Andromeda, pada sebuah sistem bintang biner yang dikelilingi oleh cincin kristal, berdiri sosok lain yang memiliki tanda genetik yang nyaris identik dengannya: Zarek Adiwangsa, "Saudara" dari prototipe Primordial yang sama, yang telah lebih dulu menaklukkan ribuan peradaban dengan cara yang jauh lebih dingin dan tak kenal ampun.Valerie merasakan perubahan suasana hati suaminya. Ia melangkah mendekat, gaun lubang hitamnya menyapu lantai kristal dengan suara desis yang halus. Ia melingkarkan tangannya di p







