Koridor benteng Aethelgard kini terasa seperti lorong di dalam pikiran seorang psikopat—dingin, terlalu teratur, namun di bawah permukaannya berdenyut kegilaan yang siap meledak. Arka Adiwangsa berjalan dengan langkah yang menggetarkan pilar-pilar kristal, auranya tidak lagi sekadar ungu gelap, melainkan hitam pekat yang menghisap cahaya di sekelilingnya. Ia merasakan sebuah pergeseran gravitasi emosional. Sebagai predator puncak, Arka selalu tahu siapa yang memiliki wilayahnya, namun hari ini, wilayah itu—jiwa dan raga Valerie—mulai memancarkan sinyal yang tidak ia kenali. Sinyal itu halus, presisi, dan memiliki tanda frekuensi emas milik Malakor.Di dalam kamar observasi pribadi, Valerie Adiwangsa sedang duduk terdiam. Matanya yang ungu tampak kosong, menatap ke arah hamparan bintang Andromeda yang mulai menjauh. Di belakangnya, Malakor berdiri. Anak itu tidak lagi tampak seperti bocah; ia telah memanipulasi pertumbuhan selulernya hingga tampak se
続きを読む