Home / Urban / Sentuhan Pembalasan / Bab 86: Benih Pengkhianatan

Share

Bab 86: Benih Pengkhianatan

Author: Beya
last update publish date: 2026-03-29 14:29:12

Kehancuran The Throne of Logic di jantung Andromeda meninggalkan luka bakar permanen di jalinan ruang angkasa, sebuah suar ultraviolet yang menandai kemenangan klan Adiwangsa. Namun, di dalam koridor hening benteng Aethelgard yang sedang meluncur kembali menuju Bima Sakti, kemenangan itu terasa hambar dan dingin.

Arka Adiwangsa berdiri di balkon observasi, matanya yang memiliki empat lingkaran emas menyisir kegelapan, namun pikirannya tidak tertuju pada armada musuh yang tersisa. Ia merasakan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 92: Perjamuan Entropi

    Cahaya perak Andromeda yang biasanya stabil dan menenangkan kini bergetar hebat, seolah-olah ruang angkasa itu sendiri sedang mengalami kejang saraf. Di atas langit istana Malakor, lubang cacing yang tercipta dari pengorbanan jutaan nyawa manusia di Bumi terus memuntahkan kabut hitam yang pekat. Kabut itu bukan materi, melainkan Entropi Murni—sebuah ketiadaan yang aktif, yang memakan setiap foton cahaya yang menyentuhnya. Arka Adiwangsa melayang di tengah badai hitam tersebut. Jubahnya kini terbuat dari asap yang terus berbisik, suara-suara dari jutaan jiwa yang ia "bakar" untuk mencapai tempat ini.Matanya yang putih tanpa pupil menatap lurus ke arah balkon di mana Valerie berdiri. Arka tidak lagi merasakan gravitasi atau oksigen; parasit entropi di dalam sarafnya telah mengubahnya menjadi entitas yang hidup di luar hukum biologi. Ia tidak datang untuk bernegosiasi. Ia datang untuk perjamuan."Victoria..." suara Arka bergema di seluruh struktur ista

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 91: Kebangkitan dari Abu

    Palung Mariana tidak lagi menjadi jantung dari peradaban bawah laut yang megah. Sejak Aethelgard melompat ke dimensi Andromeda, struktur kubah Eden yang dulu menjadi simbol kekuasaan Arka Adiwangsa kini hanyalah reruntuhan kristal yang retak dan tertimbun lumpur samudra. Air laut yang dingin menusuk hingga ke tulang, merembes masuk melalui celah-celah segel yang gagal. Di pusat aula singgasana yang telah hancur, Arka terkapar di atas tumpukan debu obsidian. Tubuhnya yang dulu memancarkan aura Void yang menakutkan kini tampak kurus, pucat, dan penuh luka bakar perak—sisa-sisa serangan "De-Ascension" dari anaknya sendiri, Malakor.Arka mencoba menggerakkan jemarinya. Rasa sakitnya luar biasa, bukan hanya sakit fisik, tapi rasa sakit akibat kehilangan koneksi saraf dengan seluruh armadanya. Ia merasa buta. Ia merasa tuli. Untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, Arka Adiwangsa merasa... manusia. Dan bagi Arka, menjadi manusia adalah penghinaan yang lebih buruk

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 90: Runtuhnya Tahta Obsidian

    Kegelapan di dalam benteng Aethelgard tidak lagi terasa seperti pelindung, melainkan seperti kain kafan yang menyesakkan. Arka Adiwangsa duduk di singgasana obsidiannya, namun posturnya tidak lagi mencerminkan keagungan yang tenang. Matanya yang memiliki empat lingkaran emas terus berkilat liar, memindai setiap sudut aula yang kini terasa asing. Frekuensi Void yang biasanya tunduk pada kehendaknya kini berdenyut dengan irama yang sumbang—sebuah desisan statis yang menandakan bahwa otoritasnya sedang digerogoti dari dalam oleh parasit yang ia sebut sebagai anak.Di sampingnya, Valerie berdiri mematung. Jubah permaisurinya yang hitam legam tampak kaku, dan kulit porselennya memancarkan pendaran emas tipis yang tidak bisa dihilangkan oleh Arka, sekeras apa pun ia mencoba "membersihkan" Valerie dengan energinya. Valerie menatap lurus ke depan, namun jiwanya terasa seperti berada di tempat lain. Setiap kali Arka menyentuh tangannya, Valerie tersentak kec

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 89: Persimpangan Kehendak

    Koridor benteng Aethelgard kini terasa seperti lorong di dalam pikiran seorang psikopat—dingin, terlalu teratur, namun di bawah permukaannya berdenyut kegilaan yang siap meledak. Arka Adiwangsa berjalan dengan langkah yang menggetarkan pilar-pilar kristal, auranya tidak lagi sekadar ungu gelap, melainkan hitam pekat yang menghisap cahaya di sekelilingnya. Ia merasakan sebuah pergeseran gravitasi emosional. Sebagai predator puncak, Arka selalu tahu siapa yang memiliki wilayahnya, namun hari ini, wilayah itu—jiwa dan raga Valerie—mulai memancarkan sinyal yang tidak ia kenali. Sinyal itu halus, presisi, dan memiliki tanda frekuensi emas milik Malakor.Di dalam kamar observasi pribadi, Valerie Adiwangsa sedang duduk terdiam. Matanya yang ungu tampak kosong, menatap ke arah hamparan bintang Andromeda yang mulai menjauh. Di belakangnya, Malakor berdiri. Anak itu tidak lagi tampak seperti bocah; ia telah memanipulasi pertumbuhan selulernya hingga tampak se

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 88: Kedaulatan Sang Malakor

    Aula utama benteng Aethelgard tidak pernah terasa sesunyi ini. Getaran mesin Void yang biasanya menderu konstan kini seolah-olah tertahan oleh kehadiran entitas baru yang duduk di tengah ruangan. Malakor, Sang Penentu, tidak duduk di singgasana Arka, melainkan melayang beberapa inci di atas lantai kristal obsidian. Tubuhnya yang mungil namun proporsional seperti pemuda dewasa memancarkan aura emas yang dingin, sebuah kontradiksi visual dari kegelapan ungu yang menyelimuti ayahnya. Sejak Arka menyuntikkan "Segel Posesif" ke dalam sistem sarafnya, Malakor tampak patuh, namun matanya yang memiliki kedalaman galaksi terus merekam, menghitung, dan mengasimilasi setiap emosi yang ada di ruangan itu.Arka Adiwangsa berdiri di balkon observasi, tangannya mencengkeram pagar balkon hingga materialnya mengerang. Ia menatap punggung anaknya dengan campuran antara kebanggaan predator dan kewaspadaan instingtual. Di sampingnya, Valerie bersandar pada bahu Arka, tubuhnya masih lemah pasca persalin

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 87: Lahirnya Sang Penentu

    Benteng Aethelgard berguncang bukan karena serangan artileri, melainkan karena resonansi frekuensi yang terpancar dari rahim Valerie Adiwangsa. Di pusat ruang medis yang kini telah diubah menjadi kuil obsidian, udara terasa kental dengan aroma ozon dan darah yang dialiri energi Void. Arka Adiwangsa berdiri di sisi altar, mencengkeram tangan Valerie dengan kekuatan yang sanggup meremukkan baja, namun Valerie tidak merasakannya. Seluruh sistem saraf Valerie telah diambil alih oleh proses "Eklips Biologis"—kelahiran seorang pewaris yang membawa logika dingin Zarek dan gairah predator Arka dalam satu wadah."Tahan, Victoria... tetaplah bersamaku!" raung Arka. Suaranya bergema dengan otoritas yang mencoba mengunci jiwa Valerie agar tidak tersedot ke dalam pusaran energi yang sedang terbuka di antara kedua kakinya.Valerie menjerit, sebuah suara yang melampaui pita suara manusia. Matanya berpendar putih susu dengan lingkaran ungu yang berputar liar di tengahnya. Cahaya perak merembes dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status