“Bos, tenang,” bujuk Rival seraya menggenggam kedua tangan Byakta yang sudah gemetar. Suara monitor detak jantung masih berbunyi tidak stabil, lampu di ruang perawatan menyala redup, hanya menyisakan cahaya putih dari beberapa pealatan medis yang terus bekerja tanpa henti. Byakta masih terbaring di ruangan. Tubuhnya basah oleh keringat dingin. Napasnya terengah. Melihat kondisi itu, Ivanka hanya melagkah mundur. Dia tidak percaya, orang sekuat Byakta ternyata memiliki trauma sedalam itu. “Byakta!” Rival mengguncang tubuh Byakta higga pria itu menatapnya dengan mata merah yang sudah basah. Tatapannya kosong. Pupil matanya sesekali bergerak gelisah, seperti sedang berada di tempat yang jauh lebih gelap dari ruangan ini. “Ini … ini gelap,” bisiknya. Tangannya mencengkram seprei dengan kuat, hingga membuat jari-jarinya memutih. Tak lama, dokter langsung memberi isyarat pada perawat untuk segera menyuntikkan obat
Read more