“Bos, apa tidak sebaiknya—” Byakta melirih Rival dengan tatapan tajam. Tatapan itu hanya melembut kala jemari Ivanka menyentuh lenggannya. “Bahkan di saat kondisi sakit saja, Anda masih bisa membuatnya takut?” goda Ivanka seraya melirik Rival yang sudah menundukkan kepala. Mendengar ada yang mencemoohnya, Rival hanya mendengus. Dia tidak banyak bicara seperti sebelum Byakta sadar. Nyalinya langsung menciut hanya dengan melihat sorot mata Bosnya itu. "Saya tidak menakutinya," bela Byakta seraya mendengus. "Dia hanya menghargai saya." Mata Byakta beralih pada Rival yang masih menunduk. "Bukan begitu Rival?" Seketika, Rival langsung mengangkat wajahnya. "I-iya, Bos." Byakta tersenyum puas, kemudian mengedikkan bahunya malas. Setelah perintah Byakta berakhir, ruangan kembali sunyi. Radio di tangan Rival sudah kembali diam. Namun ketegangan di dalam ruangan justru semakin tebal. Ivanka kini kembali berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Pikirannya berputar cepat,
Read more